Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) Megawati Institute hadir kembali pada Rabu, 08 April 2026, dengan membincang pemikiran dan pergerakan Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau Cokroaminoto bersama Safrizal Rambe, Dosen Universitas Nasional, di Jalan Proklamasi No. 53, Menteng, Jakarta Pusat. Hadir pula para peserta yang terdiri dari yang luring (offline) dan daring (online).
Cokroaminoto merupakan tokoh pergerakan yang hidup pada masa awal abad 19 dan telah memberikan kontribusi besar dalam khazanah pemikiran kebangsaan, khususnya sosialisme Islam. Ia dilahirkan di Ponorogo pada 16 Agustus 1882 dari seorang keluarga ningrat. Ayahnya RM Tjokroamiseno yang bekerja sebagai pejabat pemerintahan dan kakeknya RM Adipati Tjokronegoro adalah Bupati Ponorogo.
Cokroaminoto menempuh pendidikan di OSVIA (Opleidingsschool Voor Inlandsche Ambtenaren) yang saat itu hanya diperuntukkan bagi orang Belanda dan kaum bumiputera dari kalangan ningrat. Setelah selesai menempuh pendidikan, ia bekerja sebagai juru tulis di Ngawi dan setelah itu bekerja di beberapa tempat dan menjadi pegawai pemerintah. Namun, kegusaran Cokroaminoto melihat penindasan rakyat membuatnya beralih dari seorang pekerja menjadi aktivis politik.
Peran penting Cokroaminoto adalah mengubah Sarekat Islam dari organisasi ekonomi menjadi gerakan politik populis pertama di Indonesia. Safrizal menyoroti bagaimana Cokroaminoto memperluas ruang lingkup organisasi di luar pedagang batik di Laweyan untuk memasukkan dua juta anggota di 197 cabang di seluruh Indonesia hingga menjadikannya organisasi populis terbesar pada masanya.
Safrizal juga memaparkan bagaimana Marxisme begitu dominan dalam sejarah pergerakan di Indonesia dengan mengeksplorasi bagaimana Marxisme menginspirasi Cokroaminoto dalam merumuskan sosialisme Islam ke dalam sebuah buku. “Buku itu sebenarnya hadir dalam rangka mengatasi ketegangan ideologis pada masa itu di mana komunisme begitu kuat,” katanya.
Kelas berjalan dengan begitu intensif di mana percakapan di dalamnya juga memeriksa warisan Cokroaminoto baik sebagai aktivis politik maupun sebagai pemikir dan guru yang melahirkan banyak tokoh pergerakan yang masing-masing menempuh jalan berbeda. Selain itu, persinggungan dan perbandingan dengan para pendiri bangsa sezamannya, antara lain Tan Malaka, juga dibahas secara proporsional.