Tentang Genealogi Pemikiran Pendiri Bangsa

Bagikan:

Megawati Institute kembali mengadakan Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) untuk angkatan XI dan kelas pembukanya bertema “Genealogi Pemikiran Pendiri Bangsa” telah berlangsung pada Senin, 09 Februari 2026 di Jalan Proklamasi No. 53, Menteng, Jakarta Pusat bersama Yudi Latif sebagai pemateri.

Yudi menyampaikan pentingnya mengurai genealogi pemikiran pendiri bangsa yang telah dipelajari dalam kelas-kelas selanjutnya. Menurutnya, berbagai ideologi yang muncul sampai saat ini pasti berasal dari kalangan terpelajar yang kebanyakan berasal dari masyarakat urban (urban educated people). Karena itu, dalam sejarah pergerakan Indonesia, para tokoh pergerakan muncul dari kalangan urban terdidik/terpelajar seperti Cokroaminoto, Muhammad Hatta, dan sebagainya.

“Terdapat beberapa aspek yang dapat memengaruhi sebuah pemikiran seseorang, yaitu tingkat pendidikan, media, diskusi praktis, struktur kesempatan politik, basis ekonomi, dan lingkungan domestik maupun internasional,” lanjut Yudi.

Ia juga menekankan pentingnya membaca sejarah secara genealogis, yaitu sebuah cara membaca sejarah secara strategis, bagaimana melihat masa lalu dari terang kepentingan dan kenyataan hari ini. Dalam pemaparannya, ada perbedaan antara inteligensia dengan intelektual. Inteligensia merupakan sebuah kelompok yang memiliki agenda-agenda pergerakan. Sementara itu, intelektual adalah individu yang menjadi “juru bicara”-nya.

Yudi membahas perkembangan sejarah Indonesia, dengan fokus pada peran pendidikan dan kepemimpinan intelektual dalam membentuk identitas bangsa dan perlawanan terhadap kolonialisme. Dia menyoroti bagaimana istilah “Indonesia” berevolusi dari konsep etnologis menjadi konstruksi politik, yang dipengaruhi oleh lembaga pendidikan dan gerakan intelektual. Juga, menekankan pentingnya pendidikan dalam menumbuhkan rasa persatuan dan kemerdekaan nasional serta mencatat tantangan yang dihadapi oleh orang Indonesia dalam mengakses pendidikan tinggi dan pengembangan teknologi selama periode kolonial.

Selanjutnya, ia menjelaskan bagaimana politik etis—yang masyhur dengan fokus pada edukasi, imigrasi, dan irigasi—muncul sehingga menimbulkan dampak signifikan dalam sejarah pergerakan di Indonesia. Banyak tokoh pergerakan hadir karena mengenyam pendidikan hasil kebijakan politik etis tersebut. Dengan kata lain, pendidikan yang mereka dapatkan menjadi medium pencerahan yang memberikan kesadaran bahwa kolonialisme tidak bisa dibiarka dan harus dilawan.