Mengartikulasikan Marco

Bagikan:

Kelas ketiga Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) bertema “Pergerakan dan Pemikiran Marco Kartodikromo” untuk angkatan XI telah berlangsung pada Rabu, 25 Februari 2026, bersama Direktur Eksekutif Megawati Institute Hilmar Farid di Jalan Proklamasi No. 53, Menteng, Jakarta Pusat. Para peserta daring (online) memenuhi ruangan dan para peserta luring (offline) via Zoom tidak kalah antusias.

Marco Kartodikromo lahir di Cepu para 1890. Ia dari keluarga priyayi rendahan dengan latar pendidikan terbatas dan otodidak. Meski begitu, cukup dekat dengan infrastruktur modern tetapi juga mengalami ketertindasan. Menurut Hilmar, perjalanan awal Marco melalui dua jalur kemungkinan. Pertama, kooptasi dan menjadi bagian dari tatanan kolonial. Kedua, membangkang atau melawan dengan menggunakan perangkat modern dan Marco memilih jalan kedua.

Pemikiran dan pergerakan Marco telah menjadi rintisan awal dalam dunia jurnalisme kita, khususnya dalam memberikan kesadaran bahwa bangsa kita terjajah. Karena itu, mengaji pemikiran dan pergerakan Marco sangat penting demi memberikan para peserta/audiens gambaran atau horizon perkembangan dunia pers di Indonesia, khususnya dalam konteks perjuangan kemerdekaan bangsa. Jurnalisme menjadi sarana utama untuk menggerakkan gagasan dengan cara menulis, mengamati ketidakadilan, berdebat, dan membangun keberanian moral.

“Pembentukan intelektual Marco juga bersifat publik dan dibentuk oleh pengalaman, polemik, represi, dan solidaritas. Marco menulis untuk menggerakkan dan menggerakkan lewat menulis,” kata Hilmar.

Salah satu hal pokok dalam kelas ketiga ini adalah pembahasan terkait pentingnya memahami perkembangan pemikiran dalam konteks sejarah dan penekanan pada perlunya membaca teks asli secara dekat untuk menghargai dampaknya. Hilmar menyoroti pentingnya teori landasan dalam kenyataan dan bahaya menempatkan keduanya pada ranah dikotomis. Sebab, menurut Hilmar, teori juga merupakan praktik dalam kenyataan.

Ia juga menyentuh peran tokoh-tokoh seperti Marco dan pengaruh mereka terhadap gerakan kiri Indonesia sambil menggarisbawahi kompleksitas dan keragaman proses pemikirannya, terutama dalam konteks perkembangan sosial dan organisasi awal abad ke-20 di Indonesia dengan fokus pada bagaimana orang-orang seperti Marco mengartikulasikan pengalaman mereka dan merumuskan tata bahasa moral untuk mengatasi ketidakadilan sosial.

“Di sini, pentingnya memahami bagaimana ide-ide ditransmisikan dan diartikulasikan pada masa itu, menunjukkan bahwa perhatian terhadap bahasa dan ekspresi memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan organisasi dan pembentukan [opini] publik,” tegas Hilmar.