Membaca Kartini

Bagikan:

Kelas keempat Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) bertema “Pergerakan dan Pemikiran Kartini” untuk angkatan XI telah berlangsung pada Rabu, 04 Maret 2026, bersama Sejarawan Andi Achdian di Jalan Proklamasi No. 53, Menteng, Jakarta Pusat. Para peserta yang terdiri dari yang daring (online) dan luring (offline) begitu antusias berdiskusi.

Pertemuan tersebut fokus pada pembicaraan tentang Raden Ayu Kartini, seorang reformis intelektual dan sosial Indonesia dari akhir abad ke-19. Para peserta mengeksplorasi pemikiran Kartini tentang modernitas, hak-hak perempuan, dan tantangan yang dihadapinya dalam masyarakat tradisional Jawa. Mereka memeriksa korespondensinya dengan teman-teman dan pandangannya tentang pendidikan, emansipasi, dan peran wanita dalam masyarakat.

Percakapan tersebut juga menyentuh konteks kolonial masa Kartini dan dampak kolonialisme Belanda terhadap masyarakat Indonesia dengan merefleksikan relevansi gagasan Kartini saat ini dan mempertimbangkan bagaimana pemikirannya tentang perubahan sosial dan kesetaraan gender terus memengaruhi diskursus kontemporer tentang hak-hak perempuan maupun pemberdayaannya di Indonesia.

Andi mengawali paparannya dengan menjelaskan latar historis perjalanan hidup Kartini sambil mengemukakan bagaimana proses penulisan surat-suratnya kepada para sahabatnya hadir. Menurut Andi, Kartini lahir dari rahim aristokrasi Jawa tetapi dibesarkan dalam arus modernitas kolonial yang paradoksal. Ia mengenyam pendidikan Belanda, membaca gagasan liberal Eropa namun hidup dalam struktur feodal dan patriarkal yang ketat.

Dengan menekankan perjuangan dan relevansinya di zaman modern, Andi membacakan beberapa kutipan dari surat-surat Kartini dan menyoroti keinginannya untuk seorang wanita modern dan independen yang dapat menyeimbangkan kebahagiaan pribadi dengan kesejahteraan masyarakat.

“Kontras antara visi Kartini dan kendala masyarakat pada masa itu mengungkapkan harapan bahwa generasi mendatang akan melihat kemajuan dalam kesetaraan gender,” katanya.

Andi juga menyinggung gagasan-gagasan Kartini tentang modernitas, emansipasi, dan pembebasan struktural perempuan sambil menekankan relevansi gagasan Kartini terhadap masalah gender saat ini. Menurutnya, kecenderungan sosialis Kartini dan pengaruhnya terhadap hak-hak perempuan Indonesia mencatat bahwa visi Kartini melampaui gender untuk pembebasan manusia tanpa menafikan tantangan penerapan ide-idenya di era modern sambil mempertanyakan apakah masyarakat siap untuk perubahan yang dia bayangkan.