Indonesia Perlu Belajar dari Kazakhstan

BAGIKAN:

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on facebook

Kenaikan harga energi di Kazakhstan telah memicu demontrasi besar-besaran dan membunuh sejumlah korban jiwa. Presiden Kassym-Jomart Tokayev bahkan telah memandatkan pihak keamanan negara untuk menindak tegas para demonstran tanpa peringatan dan melabeli mereka dengan teroris.

Karena itu, Megawati Institute mengadakan bincang akhir pekan (09/01/2022) via Zoom membahas apa yang terjadi di sana dan bagaimana relevansinya dengan Indonesia sekarang, apalagi isu energi ini merupakan isu yang hangat.

Hadir pada kesempatan tersebut para pemantik diskusi Firdha Anisa Najiya, M.Sc (Peneliti Sigmaphi), Marbawi A Katon, MA (Kepala Departemen Politik Megawati Institute), Dimas Oky Nugroho, Ph.D (Pengamat Politik), dan Dr. Arif Budimanta (Direktur Eksekutif Megawati Institute).

Firdha fokus berbicara pada soal perkembangan terkini energi, terutama batu bara di mana Indonesia coba menerapkan kebijakan penghentian ekspor. Menurutnya, kebijakan penundaan ekspor batubara harus tetap dipertahankan di tengah polemik yang muncul. Salah satu kritik atas kebijakan ini datang dari Jepang yang meminta ekspor batu bara dari Indonesia tetap dilakukan. Sebab, ketahanan energi Jepang sangat bergantung pada impor sumber energi fosil.

Meski begitu, lanjut Firdha, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk mundur dari langkah melindungi kebutuhan rakyat, dan memprioritaskan permintaan global. Apalagi saat ini Indonesia resmi memegang presidensi G20.

Sementara itu, Marbawi berbicara berbicara dari perspektif geopolitik Kazakhstan. Menurutnya, Kazakhstan merupakan sebuah negara yang berada di Asia Tengah yang tidak bisa lepas dari kepentingan negara besar, antara lain, Rusia yang terus berusaha melanggengkan kekuasaannya. Paling tidak, ada tiga hal yang bisa digunakan untuk membaca apa yang terjadi di sana. Pertama, geopolitik itu sendiri. Kedua, transisi demokrasi. Ketiga, ekonomi-politik.

Untuk mempertajam perbincangan, Dimas melanjutkan apa yang telah disampaikan Marbawi. Menurut Dimas, soal energi sebenarnya pemicu dari pergolakan/demonstrasi masyarakat di sana. Sebab, yang terjadi sekarang adalah akumulasi dari masalah kesenjangan (inequality), otoritarianisme, dan korupsi. Sementara itu, Arif berbicara dari perspektif ekonomi yang lebih luas sebelum masuk ke soal politiknya.

Bincang akhir pekan ini merupakan sebuah forum berbagi ide di mana setiap yang hadir bisa berbagi pandangan atau menanggapi apa yang telah disampaikan para pemantik diskusi. Dengan demikian, muncul beragam perspektif untuk memperkaya wacana yang dibincangkan.

 

Dida Darul Ulum – MI