Politik dan Perjuangan Sukarno

Kelas kesepuluh Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) Megawati Institute membahas pemikiran dan pergerakan Sukarno bersama Darwin Iskandar

Bagikan:

Kelas kesepuluh Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) Megawati Institute untuk angkatan xi membahas pemikiran dan pergerakan Sukarno bersama Darwin Iskandar yang merupakan pemikir Sukarnois pada Kamis, 21 Mei 2026, di Jalan Diponegoro No. 56, Menteng, Jakarta Pusat.

Sosok Sukarno memang selalu melekat ketika kita membaca sejarah Indonesia. Ia adalah sosok fenomenal. Ia juga merupakan presiden pertama Republik Indonesia. Dalam hal kebudayaan, Sukarno telah menekankan pentingnya kebangsaan yang berkebudayaan. Menurutnya, sebuah bangsa akan berdiri dengan kokoh bila ia memiliki kemandirian dalam bidang ekonomikedaulatan dalam bidang politik, dan kepribadian dalam bidang kebudayaan (Trisakti).

Tampaknya tiga hal tersebut bukanlah ungkapan yang tak bermakna. Kepribadian dalam bidang kebudayaan harus digarisbawahi. Sebab, sebuah bangsa tidak akan bisa menciptakan peradabannya sendiri tanpa fondasi kebudayaan yang kuat. Selain kebudayaan, Sukarno juga punya fokus ke politik dan ekonomi. Karena itu, menjelajahi pemikirannya akan membuat kita tahu bahwa khazanah pemikirannya begitu luas.

Pemikiran dan pergerakan Sukarno memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan nasional dan telah menjadi inspirasi abadi bagi perjuangan dan pergerakan dunia kita sekarang sehingga namanya dikenal sampai saat ini. Darwin menekankan tiga hal dalam memahami ajarannya. Pertama, kita perlu memahami alur pikiran Sukarno. Kedua, memahami situasi dan kondisi Indonesia dalam konteks persoalan bangsa dan negara. Ketiga, menangkap makna hakiki dari ajaran-ajaran Sukarno.

“Salah satu kekuatan utama pemikiran Sukarno terletak pada kemampuannya menerjemahkan pemikirannya ke dalam bahasa yang mudah dipahami oleh rakyat kecil,” tegas Darwin.

Ini berbeda dari banyak pemikir politik lain yang sering menggunakan istilah akademik dan konseptual yang rumit. Sukarno justru berusaha membumikan gagasan-gagasannya agar dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya kelompok tertindas atau yang sering disebut Sukarno sebagai kaum marhaen.

“Hal ini,” lanjut Darwin, “menunjukkan bahwa teori perjuangan Sukarno sejak awal memang bukan disusun untuk ruang intelektual yang eksklusif, melainkan untuk menjadi alat kesadaran politik rakyat dalam melawan penindasan kolonialisme, imperialisme, kapitalisme, dan feodalisme.”