Kesederhanaan Agus Salim

Megawati Institute

Bagikan:

Kelas kesembilan Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) Megawati Institute untuk angkatan xi membahas pemikiran dan pergerakan Agus Salim bersama Suradi, Dosen Institut Media Digital Emtek (IMDE) dan Penulis Haji Agus Salim dan Konflik Politik dalam Sarekat Islam (1997), pada Rabu, 13 Mei 2026, di Jalan Diponegoro No. 56, Menteng, Jakarta Pusat.

Haji Agus Salim lahir di Sumatera Barat pada 08 Oktober 1884 dan wafat di Jakarta pada 04 November 1954. Karier politiknya berawal di Sarekat Islam, bergabung dengan Cokroaminoto dan Abdul Muis pada 1915.

Ketika kedua tokoh itu mengundurkan diri dari Volksraad sebagai wakil SI akibat kekecewaan mereka terhadap pemerintah Belanda, Agus Salim menggantikan mereka selama empat tahun (1921-1924) di lembaga itu. Namun, sebagaimana para pendahulunya, dia merasa perjuangan “dari dalam” tak membawa manfaat. Dia pun keluar dari Volksraad dan berkonsentrasi di SI.

“Haji Agus Salim dijuluki sebagai The Grand Old Man. Ia merupakan seorang politisi dan tokoh pergerakan yang menulis dengan analisis tajam karena memang ia juga seorang wartawan. Perjalanan intelektualnya penuh dengan khazanah pemikiran Islam sehingga ia pun menjadi seorang pemikir Islam. Kemampuannya dalam berbahasa tidak diragukan lagi sehingga ia tercatat sebagai seorang poliglot dan seorang diplomat ulung dalam sejarah bangsa kita. Namun, yang menarik adalah bahwa ia memilih hidup sederhana,” kata Suradi.

Pemikiran dan pergerakan Agus Salim ini memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan nasional dan telah menjadi inspirasi abadi bagi perjuangan dan pergerakan dunia diplomasi kita sekarang sehingga namanya dikenal sampai saat ini. Karena itu, Suradi membagi pembahasannya pada dua bagian. Pertama, pergerakan. Kedua, pemikiran.

Mengaji pergerakan dan pemikiran Agus Salim sangat penting demi memberikan para peserta Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) XI gambaran atau horison pemikiran dan pergerakan nasional kita, khususnya pergerakan dan pemikiran Agus Salim dalam konteks pemikiran Islam. Sebab, Agus Salim lahir dalam tradisi keislaman yang kental sehingga ia menempuh studi Islam sampai ke Tanah Suci.

Suradi juga menyampaikan kronologi pergerakan dan pemikiran Agus Salim dari awal sampai akhir hayatnya.