Kelas ketujuh Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) untuk angkatan xi tentang pemikiran dan pergerakan Ki Hajar Dewantara sudah berlangsung pada Rabu, 29 April 2026, di Megawati Institute bersama Doni Koesoema yang aktif dalam menyoroti isu-isu pendidikan. Ki Hajar merupakan tokoh penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan.
Ki Hajar bernama asli Soewardi Surjaningrat, lahir pada 2 Mei 1889. Ia adalah putra kelima dari Soeryaningrat, putra dari Paku Alam III. Karena dia keturunan bangsawan, dibesarkan di lingkungan kraton Pakualaman, Yogyakarta, mendapat gelar Raden Mas (RM). Dia bisa bersekolah tetapi teman-temannya tidak bisa sekolah karena bukan dari golongan bangsawan. Hal ini menumbuhkan empati dalam dirinya sehingga ia melepaskan gelas kebangsawanannya.
Hal ini, menurut Doni, karena Ki Hajar banyak berinteraksi dengan orang-orang/masyarakat di sekitarnya sehingga ia merasakan penderitaan akibat dari kolonialisme Belanda. Bahkan, ia juga aktif mengkritik kebijakan kolonial pada masa itu.
“Pada sekitar umur 39 tahun, Soewardi Suryaningrat meninggalkan gelar kebangsawanannya yang secara simbolis ia lakukan dengan mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara,” katanya.
Dalam soal pemikiran, Ki Hajar merupakan perumus penting dalam sistem pendidikan nasional meskipun dunia pendidikan sekarang bisa dikatakan jauh dari kesempurnaan. Namun, gagasan-gagasan Ki Hajar jangan sampai ditinggalkan karena ia adalah roh dalam sistem pendidikan nasional kita.
Doni juga membahas filosofi pendidikan Ki Hajar dengan menekankan pentingnya pendidikan karakter atau Pendidikan transformatif dan memahami sifat manusia.
“Belajar dari kehidupan dan pikiran seseorang, bukan hanya ide-ide mereka, sangat penting untuk transformasi pribadi,” tegasnya.
Konsep Pendidikan Ki Hajar menekankan perlunya mempertimbangkan pendekatan yang berpusat pada manusia dalam pendidikan, mengenali dimensi fisik dan spiritual manusia, dan peran Tuhan dalam membentuk nilai-nilai dan etika manusia. Poin ini pun menyinggung potensi bahaya mengabaikan dimensi spiritual dalam pendidikan, merujuk pada kekejaman historis yang dihasilkan dari filosofi yang berpusat pada manusia yang mengabaikan bimbingan Ilahi.
Banyak hal dibahas dalam pertemuan ini, antara lain, filsafat manusia dan teori pedagogi Ki Hajar.