Bincang Bersama Vijay Prashad

Bagikan:

Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) angkatan xi kedatangan tamu spesial yang sangat pakar dalam isu Dunia Ketiga pada Rabu, 22 April 2026. Vijay Prashad merupakan seorang sejarawan dan jurnalis yang menulis buku The Darker Nation (2007), Struggle Makes Us Human: Learning for Movement for Socialism (2022), dan lain-lain. Vijay kini aktif sebagai Direktur Eksekutif Tricontinental Institute for Social Research.

Sebelum berbincang dengan para peserta SPPB, Vijay terlebih dahulu menghadiri berbagai forum yang ditaja Megawati Institute, GDN Press, Marjin Kiri, dan Historia.id, antara lain, kuliah umum bertajuk “The Bandung Spirit” di Gedung Merdeka Bandung pada Minggu, 19 April 2026, dan kuliah umum bertajuk “The Global South Today” di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Senin, 20 April 2026.

Berbeda dari kelas-kelas lain, pertemuan bersama Vijay dimulai dengan pertanyaan-pertanyan dari para peserta. Sebab, Vijay merasa sangat familiar dengan mereka dan tahu bahwa mereka sudah menyimak apa yang disampaikannya di forum-forum sebelumnya. Para peserta tentu menyambut baik hal ini dan terjadi banyak sekali tanya-jawab.

Salah satu pertanyaan yang muncul adalah terkait dengan Cina sebagai negara yang punya kekuatan penyeimbang dalam konteks isu The Global South. Vijay dengan tegas menjawab bahwa Cina bukan penyelamat kita karena prioritas Cina adalah rakyat mereka. Jadi, mereka sedang membangun Cina.

“Cina memang sebuah peluang tetapi sayangnya Indonesia belum mampu memanfaatkan peluang tersebut dibanding negara-negara lain seperti Vietnam, Laos, dan Bangladesh,” katanya.

Peluang itu, antara lain, keluar dari belenggu International Monetary Fund (IMF). Selama bertahun-tahun, Indonesia dan tentu saja negara-negara lain tidak bisa lepas dari kuasa IMF. Karena itu, kita punya alternatif dalam soal keuangan karena tersedia begitu banyak jalur berbeda untuk pembiayaan. Hal ini memicu banyak reaksi dari para hadirin sehingga muncul ragam pertanyaan lanjutan seperti posisi Vijay sendiri dalam melihat masalah ini dan bagaimana seharusnya rakyat Indonesia bersikap.

Vijay berbicara banyak hal termasuk sejarah Dunia Ketiga, khususnya Indonesia. Meski begitu, ia tak segan menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti perbedaan antara Marxisme, sosialisme, dan komunisme.