Kelas keenam Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) untuk angkatan xi bersama Bonnie Triyana membincang pemikiran dan pergerakan Tan Malaka di Jalan Proklamasi No. 53, Menteng, Jakarta Pusat, pada Rabu, 15 April 2026. Pertemuan tersebut fokus membedah pemikiran dan kontribusi Tan Malaka terhadap bangsa Indonesia, khususnya dalam konteks ide-idenya tentang republik.
Tan Malaka lahir di Pandam Gadang pada 02 Juni 1897. Ia merupakan tokoh revolusioner dan pemikir besar Indonesia yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan. Ia menempuh pendidikan di Kweekschool (Sekolah Guru) di Bukittinggi, lalu melanjutkan studi ke Rijkskweekschool di Haarlem, Belanda.
Pengalaman intelektualnya, menurut Bonnie, membentuk cara berpikir kritis, rasional, dan revolusioner yang kemudian ia tuangkan dalam berbagai karya. Di antaranya, yang paling terkenal adalah Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), Naar de Republiek Indonesia, dan Gerpolek. Melalui gagasan-gagasannya, Tan Malaka mendorong kemerdekaan penuh serta pentingnya pendidikan dan pemikiran ilmiah sebagai dasar membangun bangsa.
Selain mengawali diskusi tentang kehidupan dan pemikiran Tan Malaka, Bonnie juga menyoroti kegiatan revolusionernya dan dampaknya terhadap sejarah Indonesia sambil menjelaskan kehidupan awal Tan Malaka, pendidikannya di Belanda, dan keterlibatannya dengan Sarekat Islam dan gerakan sosialis awal.
Diskusi tersebut menyinggung perkembangan politik sayap kiri di Indonesia, termasuk pembentukan partai Marxis pertama di Asia, ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging), dan hubungannya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) serta bagaimana peran Tan Malaka dalam mengorganisir pemogokan dan mendirikan Sekolah Sarekat Islam di Semarang.
Bonnie menegaskan Tan Malaka mengimajinasikan republik sebagai bentuk ideal negara. Ia memimpikan kemerdekaan penuh bagi Indonesia melalui sistem pemerintahan yang demokratis, egaliter, dan berpihak penuh pada rakyat kecil, bukan berdasarkan kelas sosial. Sementara, dalam konteks membentuk dewan pemerintahan, imajinasi tidak seperti yang ada di model Barat
“Tan tidak membayangkan demokrasi parlementer ala Barat. Tan melihatnya terlalu kaku, elitis, dan penuh kompromi dengan kepentingan pemilik modal. Ia ingin demokrasi yang hidup dari bawah, dari rapat-rapat desa, dari dewan-dewan rakyat, dan bukan sekadar kotak suara lima tahun sekali. Ia bahkan mengusulkan agar wakil rakyat bisa diberhentikan kapan saja oleh konstituen,” katanya.