Membincang Nasionalisme Cipto Mangunkusumo

Megawati Institute mengadakan diskusi serial pemikiran pendiri bangsa yang mana para narasumbernya terdiri dari alumni Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB). Diskusi serial ini dilaksanakan dalam jaringan (daring) dan mengundang Reza Suriaputra, angkatan VI, sebagai pembicaranya untuk membedah pemikiran Cipto pada Kamis, 16 April 2020.

Cipto Mangunkusumo merupakan seorang dokter yang menjadi salah satu tokoh pergerakan dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dalam tulisan-tulisannya, ia banyak menekankan pentingnya nasionalisme Hindia daripada nasionalisme Jawa pada waktu itu. Menurutnya, nasionalisme Hindia (atau Indonesia sekarang) merupakan jalan keluar untuk melawan kolonialisme.

Hal ini pula yang disampaikan Reza dalam mengawali pemaparannya. Menurut Reza, sebagai tokoh pergerakan bersama Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara dalam Indische Partij, Cipto mengajukan gagasan nasionalisme Hindia sebagaimana yang tertuang dalam tulisannya yang berjudul “Nationalisme Hindia dan Hak Hidupnja” pada 1917. Tulisan itu muncul sebagai respons atas gagasan nasionalisme Jawa yang berkembang ketika itu.

“Tulisan itu menunjukkan salah satu pembentukan pemikiran kebangsaan Indonesia yang nantinya termaktub sebagai salah satu sila dari Pancasila,” kata Reza.

Reza menekankan bahwa nasionalisme Hindia yang diajukan Cipto tidak bermaksud mempertentangkannya dengan nasionalisme Jawa. Namun, nasionalisme Jawa harus diperluas cakupannya dengan semangat pergerakan yang ada di luar Jawa.

“Tentang nasionalisme Jawa, Cipto berpendapat, bangsa Jawa itu sendiri, secara terpaksa, lambat laun akan meninggalkan adat istiadatnya, dan akan menggunakan kebiasaan yang berlaku umum. Bagi Cipto, hal itu bukan untuk dilawan, bahkan ia menuntut orang Jawa untuk memeriksa kembali dirinya agar dapat hidup dalam dunia modern yang saling terhubung,” terang Reza.

Selain membahas gagasan mendasar dari Cipto pada masa lampau, Reza juga mengaitkannya ke dalam konteks sekarang. Reza, misalnya, menekankan bahwa seterbuka apa pun perkembangan zaman sekarang di mana batas-batas kebangsaan itu semakin tipis, tetap saja seluruh problem manusia pada ujungnya akan kembali pada identitas kebangsaannya.

Diskusi ini berjalan begitu intensif di mana para peserta turut aktif bertukar pendapat untuk membedah pemikiran sampai ke akarnya. Tentunya, akan ada lagi beberapa seri diskusi yang akan membicarakan gagasan-gagasan para pendiri bangsa.

Dida Darul Ulum – MI