Ingin Hilirisasi Industri Migas, Indonesia Patut Belajar dari Kazakhstan

BAGIKAN:

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on facebook
KEIN arif Budimanta

Liputan6.com, Jakarta – Indonesia yang tengah membangun hilirisasi industri di sektor minyak dan gas (migas) patut belajar dari Kazakhstan. Negara pecahan Uni Soviet itu kini tengah diguncang kerusuhan akibat melonjaknya harga bahan bakar di dalam negeri.

Direktur Eksekutif Megawati Institute Arif Budimanta mengatakan, basis kekuatan produksi dari kehidupan ekonomi Kazakhstan berasal dari sumber daya alam (SDA), terutama migas dan mineral (uranium).

Ekonomi Kazakhstan sendiri sempat terkontraksi hampir 10 tahun sejak lepas dari Uni Soviet pada 1991. Bahkan, Arif menyebut, ekonominya pernah tumbuh negatif sampai double digit -12 persen.

“Kemudian pada 2000-2010, mulai meningkat pertumbuhan ekonominya dengan aktivitas investasi sekaligus ada implikasi spillover effect dari pertumbuhan ekonomi di China dan Rusia,” kata Arif dalam sesi webinar bersama Megawati Institute, Minggu (9/1/2022).

Selama 10 tahun kedua tersebut, rata-rata pertumbuhan ekonomi Kazakhstan berkisar di angka 7 persen, meskipun itu belum menutupi proses kontraksi selama 10 tahun pertama.

Memasuki 2010 ke atas, Arif melanjutkan, transformasi terlihat mulai berjalan agak lambat. Ekonomi sulit bangkit di atas 7 persen. Diperparah dengan datangnya pandemi Covid-19 pada 2020, yang mengakibatkan ekonomi di hampir semua negara terkontraksi parah.

Berkaca pada sejarah tersebut, Arif mengatakan, ekonomi Kazakhstan selama 30 tahun ini memang didorong oleh pergolakan harga komoditas.

“Once dimana harga komoditi baik, ekonomi juga dapat tumbuh baik, walaupun sebenarnya Kazakhstan berusaha mengembangkan ekonomi yang bernilai tambah. Tapi 50 persen sumbangan dari PDB Kazakhstan masih datang dari sektor oil and gas dan mineral,” sambung Arif Budimanta.

Privatisasi

Polisi anti huru hara memblokir jalan untuk menghentikan demonstran selama protes di Almaty, Kazakhstan, Rabu (5/2/2022). Demonstran yang menolak kenaikan harga gas cair bentrok dengan polisi di kota terbesar Kazakhstan dan mengadakan protes di sekitar kota. (AP Photo/Vladimir Tretyakov)

Kedua, meski neraca perdagangannya terus tumbuh, tapi current account deficit negara tersebut berjalan negatif. Penyebabnya, itu datang dari pendapatan primer (primary income) yang tidak dikelola dengan baik.

“Artinya, walaupun kekayaan sumber daya alamnya luar biasa, tetapi ini tampaknya tidak disimpan di dalam negeri. Yang terjadi adalah selalu capital flight, karena primary income-nya, posisi net-nya adalah negatif,” terang Arif.

Selain itu, Kazakhstan juga merupakan salah satu negara yang berhasil mendatangkan investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) yang sangat besar. Namun ketika ada dividen itu langsung dibawa ke luar negeri, sehingga primary income-nya negatif.

“Ini memang ditunjukan dengan proses privatisasi yang dilakukan di Kazakhstan, misalnya untuk sektor oil. Jadi walaupun ada kepemilikan yang dititipkan melalui badan usaha milik negara, tetapi enggak dominan kepemilikannya,” ungkap Arif.

“Ini yang juga jadi salah satu indikasi yang menggambarkan kenapa net primary income menjadi negatif. Walaupun secara PDB dan GDP per kapita Kazakhstan saat ini berada pada posisi upper middle income country,” tandasnya.

-Maulandy Rizky Bayu Kencana-