Perlu Batas Atas Kekayaan

Martin Suryajaya dalam diskusi publik bertema “Limitarianisme dalam Konteks Keadilan Sosial”

Bagikan:

Pada Jumat, 10 Juli 2026, Megawati Institute mengadakan diskusi publik bertema “Limitarianisme dalam Konteks Keadilan Sosial” dengan menghadirkan Martin Suryajaya, Dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sebagai narasumbernya di Jalan Diponegoro No. 56, Menteng, Jakarta Pusat. Diskusi publik ini fokus membahas buku Having Too Much: Philosophical Essays on Limitarianism (2023) yang disunting Ingrid Robeyns.

Limitarianisme adalah sebuah gagasan yang mengajukan perlunya peran negara dalam menetapkan “batas atas” kekayaan, bukan hanya “batas bawah” kemiskinan. Argumennya adalah bahwa tidak ada seorang pun yang secara moral boleh memiliki kekayaan melebihi jumlah tertentu karena kekayaan ekstrem merusak demokrasi, memperlebar ketimpangan sosial, dan mengurangi kesejahteraan kolektif. Buku ini mengumpulkan empat belas esai yang mengukuhkan pendasaran filosofis dari limitarianisme.

Robeyns sendiri merupakan seorang filsuf dari Utrecht, Belanda. Dia orang Belgia tetapi lama di Belanda dan mengajar di Utrecht mengenai teori-teori keadilan. Limitarianisme sebenarnya adalah idenya yang kemudian dalam lima tahun terakhir ini ramai sekali diperdebatkan di Eropa.

“Kalau dari sisi spektrum politik, dia boleh dikatakan center left-lah ya, kurang lebih sosial demokrat. Jadi, bukan yang sangat kiri,” kata Martin.

Sebelum berbincang lebih lanjut, Martin mulai paparan salindianya dengan menyajikan gagasan-gagasan para tokoh bangsa, antara lain Tirto Adhi Soerjo dan Marco Kartodikromo, yang memprakarsai gerakan-gerakan keadilan dalam sejarah pergerakan Indonesia melalui tulisan/pers. Ia juga membuat perbandingan antara tesis revolusi Amerika bahwa tidak ada pajak tanpa representasi politik dan korolari Soekarno bahwa tidak ada representasi politik tanpa keadilan sosial.

Menurut Martin, tantangan konsep keadilan sosial adalah menentukan garis demarkasi antara urusan sendiri dan urusan bersama. Ia menyajikan beberapa pertanyaan mendasar. Jika tambang, mobil, dan bensin adalah urusan pribadi, kenapa krisis iklim adalah urusan bersama?

“Jika penggunaan plastik adalah urusan pribadi, mengapa polusi mikroplastik menjadi urusan bersama? Bagaimana perkebunan sawit menjadi urusan pribadi sementara hancurnya biodiversitas yang menyebabkan zoonotic diseases seperti Covid-19 menjadi urusan bersama?” lanjutnya.

Banyak hal disampaikan Martin dalam diskusi ini, dari pengenalan tentang limitarianisme dan implikasinya dalam konteks keadilan sosial sampai implementasi dari gagasan tersebut dalam peraturan/perundang-undangan kita sekarang.

Lainnya