Salah satu pembahasan penting dalam sejarah Indonesia dalam Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) yang ditaja Megawati Institute (MI) adalah pergerakan dan pemikiran tokoh perempuan. Selain Kartini, ada dua srikandi yang tak bisa diabaikan karena mereka punya peran penting dalam pergerakan kaum perempuan di Indonesia. Mereka adalah Maria Ullfah dan Surastri Karma Trimurti atau SK Trimurti.
Maria lahir di Serang, Banten pada 18 Agustus 1911. Ia merupakan menteri sosial pertama yang menjabat pada 1946-1947 dalam Kabinet Syahrir II dan III. Ia juga sangat dikenal sebagai salah satu tokoh emansispasi wanita dan sarjana hukum perempuan pertama di Hindia Belanda yang juga memperjuangkan hak-hak perempuan serta anak-anak.
Trimurti lahir pada 11 Mei 1912 di Surakarta. Sebagaimana Maria, Trimurti juga pernah menjabat sebagai menteri perburuhan pada 1947-1948 di bawah Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin. Trimurti adalah seorang penulis, wartawan, dan guru yang ikut serta dalam gerakan kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan Belanda.
Pemikiran dan pergerakan Maria dan Trimurti ini memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan nasional dan telah menjadi inspirasi abadi bagi perjuangan dan pergerakan bangsa kita sekarang, khususnya dalam konteks emansipasi perempuan. Karena itu, pemikiran dan pergerakan Maria dan Trimurti merupakan bahasan kelas keempat belas SPPB XI yang dilaksanakan pada Rabu, 01 Juli 2026, di Megawati Institute, Jalan Diponegoro No. 56, Menteng, Jakarta Pusat. Hadir sebagai narasumber Budi Setiyono, seorang sejarawan/wartawan yang meneliti tentang dua tokoh tersebut.
Budi berbicara tidak hanya sekadar memaparkan sejarah hidup kedua tokoh tersebut tetapi juga apa yang telah mereka lakukan dalam perjuangan hak-hak kaum perempuan di Indonesia. Dinamika gerakan politik dan organisasi pada masanya mewarnai corak pergerakan kaum perempuan yang selalu menjadi subordinat bagi kaum laki-laki. Periode 1945-1948 misalnya merupakan masa yang sangat rumit dengan pertarungan politik sengit antarfaksi. Ada kelompok Syahrir, kelompok Amir Syarifuddin, dan kelompok Tan Malaka.
Puncaknya, menurut Budi, adalah peristiwa Madiun 1948 yang melibatkan penangkapan massal anggota Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan intervensi AS yang memberikan bantuan kepada polisi untuk menumpas PKI.
“Gerwis [Gerakan Wanita Sedar], yang awalnya berorientasi pada perempuan kelas menengah, berubah menjadi Gerwani [Gerakan Wanita Indonesia] yang merangkul semua perempuan. Gerwani melakukan kerja luas di bidang pendidikan dan pemberdayaan. Namun, kedekatan sebagian tokohnya dengan PKI memicu gesekan yang membuat SK Trimurti tersingkir,” katanya.
Budi juga berbicara tentang relevansi gerakan perempuan yang diinisiasi Maria dan Trimurti di mana hasilnya kita rasakan saat ini, antara lain, dalam soal pernikahan dan soal perburuhan.