Belajar dari Natsir

Bagikan:

Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) angkatan xi yang diselenggarakan oleh Megawati Institute kembali hadir membincang pemikiran dan pergerakan Mohammad Natsir bersama Abdul Hakim, Dosen STISNU Tangerang, pada Rabu, 24 Juni 2026, di Jalan Diponegoro No. 56, Menteng, Jakarta Pusat. Pembahasan tentang Natsir ini merupakan pertemuan ketiga belas.

Natsir yang bernama lengkap Mohammad Natsir Datuk Sinaro Panjang lahir pada 17 Juli 1908 di Alahan Panjang dan meninggal pada 06 Februari 1993 di Jakarta. Ia merupakan tokoh sentral dalam polemik kebudayaan Indonesia abad ke-20 yang mendefinisikan jati diri bangsa. Ia juga, menurut pandangan Abdul, penantang utama arus sekularisme radikal di tanah air dengan argumen intelektual yang kokoh.

“Ia juga representasi utama pemikir Islam modernis yang menjembatani wahyu dengan nalar kontemporer dan punya peran ganda sebagai intelektual publik sekaligus pemimpin politik bangsa yang berintegritas tinggi,” katanya.

Abdul memaparkan pemikiran dan pergerakan Natsir dari perspektif yang jarang digunakan para pembaca Natsir pada umumnya, yaitu pemikiran keislaman, kenegaraan, dan kebudayaan Natsir. Ia juga menyoroti perannya sebagai tokoh kosmopolitan yang berusaha menyeimbangkan Islam, modernitas, dan nasionalisme dan menekankan komitmen Natsir untuk membangun sebuah republik yang fokus pada peradaban dan bukan hanya berbasis kekuasaan.

Natsir pun, menurut Abdul, memiliki kontribusi penting dalam polemik kebudayaan dan konsepnya tentang demokrasi teistik—demokrasi yang berketuhanan—terinspirasi dari tradisi Minangkabau. Hal ini memperkuat pendekatan militan Natsir terhadap kepemimpinan, termasuk kemampuannya untuk membangun jaringan nasional maupun internasional secara independen.

“Natsir juga suka berpolemik,” kata Abdul. Jadi gagasan-gagasannya tidak hanya di seputar keislaman dalam arti yang sempit. Ia justru memiliki misi epistemik integratif di mana Islam tidak hanya mencakup ibadah tetapi juga masalah sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Menurut Natsir, pengetahuan Islam harus dapat diakses oleh semua orang tanpa dimonopoli oleh kelompok tertentu. Dan, visinya tentang peradaban Islam sebagai peradaban terbuka dan lintas budaya menggambarkan betapa luas wawasannya.

Abdul juga menyinggung polemik Natsir dengan Bung Karno. Meski begitu, Natsir tidak pernah dendam dan lepas dari karakternya yang lembut.