Kelas kedelapan Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) Megawati Institute untuk angkatan xi membahas pemikiran dan pergerakan Tjipto Mangoenkoesoemo atau Cipto Mangunkusumo bersama Airlangga Pribadi, Penulis Merahnya Ajaran Bung Karno (2023), pada Rabu, 06 Mei 2026, di Jalan Proklamasi No. 53, Menteng, Jakarta Pusat.
Cipto Mangunkusumo terkenal sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia bersama Ki Hajar Dewantara dan Ernest Douwes Dekker dalam Tiga Serangkai. Ki Hajar Dewantara adalah tokoh pendidikan nasional, Ernest Douwes Dekker adalah wartawan berdarah campuran Eropa-Jawa yang aktif mengkritik keras eksploitasi di tanah jajahan, sementara Cipto Mangunkusumo adalah dokter lulusan STOVIA yang aktif memperjuangkan kesehatan rakyat sekaligus hak politik kaum pribumi.
Cipto adalah dokter rakyat yang berani dan pendiri partai politik pertama, Indische Partij. Ia dikenal kritis melawan penjajah Belanda melalui tulisan dan tindakan, serta berjasa besar dalam menangani wabah pes di Malang pada 1910.
Airlangga, pada awal paparannya, fokus pada peran Cipto dalam gerakan nasional Indonesia dengan mencakup gagasan nasionalis radikalnya, penentangannya terhadap kolonialisme dan feodalisme, dan pengaruhnya terhadap pemimpin masa depan seperti Soekarno. Airlangga mengajak para peserta mengeksplorasi bagaimana pemikiran Cipto berevolusi dari fokusnya pada nasionalisme Jawa ke identitas Indonesia yang lebih luas, dan memeriksa strategi politik dan komprominya.
Cipto juga merupakan tokoh yang memiliki gagasan tentang patriotisme, kesetaraan, dan nasionalisme. Di situ, Airlangga banyak menyoroti bagaimana pandangan Cipto kontras dengan pandangan Budi Utomo, yang fokusnya adalah memulihkan budaya dan harmoni Jawa daripada nasionalisme Indonesia yang lebih luas dengan merinci keterlibatan Cipto dalam berbagai gerakan, termasuk Indische Partij dan kemudian gerakan Insulinde yang mengambil sikap yang lebih radikal terhadap kolonialisme dan feodalisme.
Menurut Airlangga, salah satu hal menarik dalam pergerakan Cipto adalah bentrokannya dengan Sutatmo di Kongres Budaya Jawa pada tahun 1918 di mana perspektif yang berbeda tentang identitas dan kekuasaan nasional diperdebatkan.
Airlangga juga menyentuh relevansi kontemporer, membahas apakah tokoh-tokoh baru dapat muncul dengan semangat revolusioner yang sama dalam lanskap politik saat ini, dan mempertimbangkan perbandingan antara pendekatan diplomatik saat ini dan gaya kepemimpinan Sukarno.