Tentang Reforma Agraria dan Desa Industri

BAGIKAN:

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on facebook

Pada Kamis, 02 Desember 2021, pertemuan keenam Kelas Kader Bangsa: Pancasilanomic Academy Batch II telah berlangsung via Zoom. Hadir selaku narasumber, Dr. Surya Tjandra, SH, LL.M., Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang yang fokus menjelaskan reforma agraria dan desa industri sekarang.

Surya mengawali diskusi tentang apa yang dimaksud dengan reforma agraria. Hal ini merupakan gambaran awal tentang kebijakan pertanahan di Indonesia. Menurutnya, kerangka kebijakan bidang pertanahan meliputi arah kebijakan di mana tercapainya kepastian dan perlindungan hukum serta keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sementara itu, sasaran pokoknya, antara lain, mengatasi ketimpangan pemilikan tanah dan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan pelayanan pertanahan, dan penyediaan tanah bagi kepentingan umum.

“Agar semuanya terwujud, perlu ada fokus prioritas seperti redistribusi tanah dan reform access, perubahan sistem publikasi pendaftaran tanah, percepatan penyelesaian kasus-kasus pertanahan, kepastian hak atas tanah masyarakat hukum adat, peningkatan kualitas dan proporsi sumber daya manusia (SDM) bidang pertanahan, dan pencadangan tanah untuk pembangunan kepentingan umum,” kata Surya.

Surya juga menyinggung bagaimana persoalan ketimpangan dalam reforma agraria terjadi dan bagaimana mengatasinya dengan menjelaskan data-data kementerian dan bagaimana kebijakan pemerintah diberlakukan sebagaimana tercermin dalam Nawacita Presiden.

Selain itu, ia juga memaparkan tantang ketersediaan tanah untuk pertanian di mana luas sawah irigasi & non-irigasi sebagai penghasil komoditas paling strategis. Contohnya, beras hanya seluas 7,4 juta ha (2019). Dibandingkan dengan total luas daratan Indonesia, luasan tersebut hanya mencakup 3,93% sedangkan kawasan hutan masih mendominasi dengan mencakup 64,14%.

Surya juga menekankan pemberdayaan tanah masyarakat yang bersifat kolaboratif dan merata. Sehingga, penyelesaian sengketa dan konflik agraria terhindarkan.

Menutup diskusinya, Surya mengutip ungkapan Romo Mangun: “Negeri ini sungguh-sungguh membutuhkan pemberani-pemberani yang gila, asal cerdas. Bukan yang tahu adat, yang berkepribadian pribumi, yang suka harmoni, yang saleh alim, yang nurut model kuli dan babu. Tanah air adalah tempat penindasan diperangi, tempat perang diubah menjadi kedamaian. Kira-kira begitu. Tempat kawan manusia diangkat menjadi manusiawi oleh siapa pun yang ikhlas berkorban dan patriotisme masa kini adalah solidaritas dengan yang lemah, yang hina, yang miskin yang tertindas.”

Dida Darul Ulum – MI