Pancasila dalam Sejarah

BAGIKAN:

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on facebook

Kelas kesembilan angkatan IX Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) telah berlangsung via Zoom kemarin, 07 Desember 2021. Syaiful Arif, Direktur Pusat Studi Pemikiran Pancasila, hadir selaku narasumber yang fokus membahas historisitas Pancasila.

Menurut Arif, berbicara tentang Pancasila tidak bisa dilepaskan dari para pendiri bangsa, khususnya Sukarno. Ia menyajikan beragam perspektif dalam sejarah pembentukan maupun kelahiran Pancasila, termasuk dinamika sejarahnya maupun berbagai problemnya.

“Jadi, kita tidak hanya mengaji sejarah kelahiran Pancasila tetapi problem-problem yang mengitarinya. Kenapa? Karena memang sejarah kelahiran Pancasila sempat mengalami pemburaman penulisan sejarah atau pemburaman historiografis, terutama era Orde Baru yang menghapus peran Bung Karno sebagai pelahir Pancasila,” kata Arif.

Hal ini penting untuk disinggung karena sejarah pemikiran Pancasila Bung Karno penting untuk dibahas. Meski demikian, ada peran tokoh-tokoh lain yang turut merumuskannya, antara lain, Mohammad Yamin.

Sejak 1964, tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila dan hari libur nasional. Sebelumnya, memang ada peringatan hari lahirnya Pancasila pada 05 Juni 1958 tapi, menurut Arif, itu insidental.

Dalam pidatonya, Bung Karno menyampaikan beberapa hal penting. Pertama, Pancasila tidak terpisah dari perjuangan rakyat Indonesia dalam melahirkan kemerdekaan. Dalam rangka perjuangan rakyat melawan penjajahan ini, ia menegaskan pentingnya persatuan nasional. Sebab hanya persatuan nasional yang menjadi modal utama bagi kemerdekaan.

Kedua, hakikat Pancasila sebagai falsafah negara sifatnya lebih luas dari bangsa Indonesia. Ini terkait dengan persatuan nasional yang hanya bisa kokoh jika didasarkan pada nilai yang lebih luas dari bangsa itu sendiri. “National unity can only be preserved upon a basic which is larger than the nation itself.

“Artinya, persatuan nasional hanya dapat dipelihara kekal dan abadi jikalau didasarkan pada nilai-nilai yang lebih luas dari bangsa. Nilai-nilai Pancasila lebih luas dari bangsa Indonesia dan membuatnya menjadi ideologi universal,” lanjut Arif.

Banyak hal disinggung dalam pemaparan Arif, antara lain, tarik-menarik kepentingan penguasa dalam dinamika sejarah Pancasila sampai saat ini. Yang tak kalah penting dalam pembahasan adalah latar belakang peringatan kelahiran Pancasila dan pokok-pokok pikiran dalam Pancasila itu sendiri.

 

Dida Darul Ulum-MI