Venezuela menjadi perbincangan hangat baru-baru ini. Setelah penangkapannya pada 03 Januari 2026 oleh militer Amerika Serikat (AS), Nicolas Maduro dipaksa lengser dari jabatannya sebagai presiden. AS di bawah kepemimpinan Donald Trump melakukan tindakan tersebut dengan dalih narkoterorisme. Apakah tuduhan itu benar atau ada motif tersembunyi di baliknya? Dan, apa dampaknya dalam politik internasional?
Diskusi Serial Alumni SPPB (Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa) yang dilaksanakan pada Rabu, 14 Januari 2026, membahasnya via Zoom bersama Jerry Indrawan, Dosen UPN Veteran Jakarta/Alumnus SPPB, Angkatan IV, ditemani Hasan Syamsudin, Dosen UIN Sunan Kudus/Alumnus SPPB, Angkatan VII.
Hasan memulai diskusi dengan perkenalan dan menyinggung apa yang baru-baru ini terjadi terkait AS dan Venezuela sambil memaparkan secara ringkas latar belakang perseteruan antara dua negara tersebut. Jerry menyambutnya dengan pertama-pertama memaparkan kompleksitas politik internasional, terutama fokusnya pada pendekatan AS terhadap diplomasi dan intervensi.
Dia menjelaskan bagaimana kebijakan luar negeri AS sering melibatkan diplomasi, kekuatan militer, dan ekspansi ideologis untuk mencapai kepentingan nasional. Jerry juga menyentuh perbedaan antara interpretasi Amerika dan Indonesia tentang kebebasan dan demokrasi, menyoroti bagaimana berbagai perspektif ini dapat menyebabkan kesalahpahaman dan konflik.
Jerry menegaskan bahwa hukum internasional berbeda dari politik internasional sambil menyinggung kedaulatan negara, khususnya mengenai intervensi di Venezuela, dalam Pasal 39 Piagam PBB, yang memungkinkan intervensi suatu negara terhadap negara yang lain dalam keadaan tertentu seperti genosida atau ancaman terhadap perdamaian internasional.
Dalam konteks politik dan hukum internasional, menurut Jerry, Trump ingin menegaskan kembali Doktrin Monroe dan implikasinya terhadap kebijakan luar negeri AS. Doktrin Monroe merupakan kebijakan luar negeri AS yang diperkenalkan pada tahun 1823 oleh Presiden James Monroe.
“Doktrin Monroe adalah bentuk realisme yang berusaha memperluas pengaruh AS di Belahan Barat untuk tujuan keamanan nasional,” kata Jerry.
Ia juga membahas kepentingan dan keamanan internasional AS dengan mengeksplorasi implikasi makroekonomi di tengah persaingannya dengan Cina dan Rusia serta konteks historis AS dalam soal intervensi kebijakan luar negeri. Ia menyarankan agar tatanan global saat ini dapat mengarah pada pembentukan blok dunia baru tanpa menafikan peran konflik proksi (proxy) dan dampaknya terhadap stabilitas global.





