Diskusi ini merupakan rangkaian dari Diskusi Serial Pemikiran Pendiri Bangsa yang telah berjalan sejak awal pandemi dengan menghadirkan alumni Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) sebagai para narasumbernya.
Blessty menekankan bahwa Sarinah merupakan “simbol” pergerakan perempuan Indonesia. Pada awalnya, Sarinah yang ditulis Sukarno merupakan bahan kursus perempuan yang diadakan di Yogyakarta pada 1948. Hal itu dilatarbelakangi sebuah kondisi di mana soal perempuan belum sungguh-sungguh dipelajari secara saksama, terutama dalam pergerakan nasional.
“Sarinah adalah sosok yang diangkat oleh Sukarno menjadi simbol masyarakat di Indonesia. Oleh Sukarno, Sarinah diaku sebagai pengasuhnya semasa kecil dan dari Sarinah, ia mempelajari banyak hal, bagaimana mencintai masyarakat kecil, bagaimana berbuat adil, dan bagaimana ia bisa berbuat dengan tulus demi bangsa Indonesia,” kata Blessty.
Sukarno melihat bahwa yang tahu kebutuhan dan masalah perempuan adalah perempuan itu sendiri. Sehingga, ia perlu menyelenggarakan sebuah kursus yang memberdayakan kaum perempuan di Yogyakarta demi perundangan-perundangan Indonesia yang menampung aspirasi seluruh masyarakat, terutama dalam isu perempuan.
“Memang sudah ada beberapa kongres/pertemuan sebelumnya yang membahas masalah-masalah teknis terkait perempuan pada saat itu. Tapi, persoalan perempuan belum dibahas lebih lanjut secara sungguh-sungguh. Sukarno berangkat dari pengalamannya sebagai orang buangan di Bengkulu pada saat mengunjungi temannya. Ia disambut dengan baik tapi hanya oleh kawannya sedangkan istrinya ia hanya lihat dari balik tirai,” lanjut Blessty.
Ketika itu, Sukarno berpikir bahwa perempuan tidak pernah mendapat tempat untuk berpartisipasi di ruang publik dan karenanya perlu ada terobosan yang bisa mendobrak sekat-sekat atau tirai-tirai yang membatasi pergerakan perempuan secara umum.
Dalam kesempatan tersebut, Blessty juga menyampaikan pemikiran Sukarno tentang tiga tahap pergerakan perempuan. Pertama, main putri-putrian yang bertujuan menyempurnakan diri untuk menjadi pendamping suami. Kedua, gerakan feminisme yang menuntut persamaan hak dengan laki-laki di ranah kerja dan pemilihan.
Ketiga, pergerakan sosialisme di mana perempuan dan laki-laki bahu membahu mewujudkan masyarakat yang sosialis—yang dalam asumsi Sukarno—niscaya keduanya merdeka dan sejahtera melalui revolusi sosial.
Dida Darul Ulum – MI