Masih tentang Kesejahteraan Buruh di Masa Pandemi Covid-19

BAGIKAN:

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on facebook

Pada Jumat, 24 September 2021, Megawati Institute mengadakan diskusi kedua tentang kesejahteraan buruh bertema “Kesejahteraan Buruh di Masa Pandemi Covid-19” via Zoom dengan menghadirkan Dr. Busyro Muqoddas (Ketua PP Muhammadiyah), Dr. Latief Awaludin (Ketua Bidgar Ekonomi PP Persis), Imam Pituduh (Wakil Sekjen PBNU), dan Ninasapti Triaswati, Ph.D (dosen FE UI).

Diskusi yang dipandu Marbawi A Katon (Kepala Departemen Politik Megawati Institute) fokus pada isu kesejahteraan buruh dari perspektif ormas-ormas Islam. Namun, pandangan akademik tetap menjadi kerangka berpikirnya.

Busyro berbicara dari konfigurasi politik dan posisi buruh di Indonesia. Menurutnya, ada beberapa hal yang relevan untuk disampaikan. Pertama, fakta menuntun nurani dan akal budi kita bahwa benih tanaman sehat akan menghasilkan panen pangan, sayur, dan buah sehat. Demokrasi yang berbasis suap, kepalsuan, dan kebohongan kolektif mustahil menghasilkan pejabat/politis sehat dan menyehatkan.

Kedua, praktik dan fakta itu, lanjutnya, mulai tahun 2004 sampai sekarang sehingga menghasilkan politik nasional yang tidak sehat. Ketiga, implikasi dari dua hal tersebut adalah bahwa buruh, nelayan, dan lain-lain mengalami marginalisasi. Keempat, ketika demokrasi transaksional membuahkan corporatocracy kleptocrative, buruh sebagai salah satu segmen sosial akan menjadi “sapi perah politik lima tahunan”.

Sementara itu, Imam mengawali bahasannya dari isu perang budaya pop (pop culture), perang digital, perang mata uang, perang menghadapi pandemi, dan perang energi. Lima hal ini menjadi tantangan bagi masa depan bangsa kita terutama para buruh. Sebab, masa depan akan mengandalkan keterampilan mesin (smart factory).

Setelah Imam, Latief menekankan bahwa ada tiga hak buruh yang hilang, terutama di masa pandemi ini. Pertama, hak normatif yang ditandai dengan banyaknya pemotongan upah karena usaha yang macet. Kedua, kebebasan berekonomi. Ketiga, pentingnya perang masyarakat sipil (civil society).

Ninasapti selaku pembicara terakhir menyajikan data-data hasil risetnya terkait kesejahteraan buruh sejak awal pandemi. Menurutnya, kalau kita lihat skala lebih besar, pandemi ini memiliki dampak terhadap usaha. Sehingga, efeknya juga terasa terhadap buruh.

Dida Darul Ulum, Megawati Institute