Bung Karno Pemikir Islam Autentik

BAGIKAN:

Share on whatsapp
Share on twitter
Share on facebook

Sesi dua Ngaji Bung Karno Megawati Institute yang dipandu Yayan Sopyani (Baitul Muslimin Indonesia) telah berlangsung via Zoom pada Kamis, 29 April 2021, dengan menghadirkan Syafiq Mughni dari PP Muhammadiyah dan Siti Ruhaini Dzuhayatin dari UIN Sunan Kalijaga.

Diskusi ini fokus pada pidato Bung Karno berjudul “Tauhid adalah Jiwaku” saat menerima gelar Doktor Honoris Causa dalam Falsafah Ilmu Tauhid dari Universitas Muhammadiyah Jakarta pada 03 Agustus 1965.

Syafiq menekankan bahwa pemikiran keislaman Bung Karno, khususnya dalam ilmu tauhid, tidak muncul begitu saja. Sebab, ada latar belakang keinginan Bung Karno mempelajari Islam secara sungguh-sungguh. Karenanya, penting menelisik riwayat studi keislaman secara ringkas. Dari situasi teologis abad 20 yang diwarnai keagamaan tradisional ke arus reformisme Islam, Bung Karno mampu menangkap semangat zaman dengan baik.

Hal ini, menurut Syafiq, tak lepas dari arus modernisme Islam yang dipelajari Bung Karno dari guru-gurunya, antara lain, HOS Cokroaminoto, Ahmad Dahlan, dan A. Hassan yang mana mereka merupakan tokoh-tokoh pembaruan Islam pada masanya. Dari merekalah, ia mampu menangkap semangat Islam.

Sementara itu, Ruhaini menekankan bahwa Bung Karno merupakan pemikir Islam yang “terlupakan”. Menurutnya, kita telah lupa dan membuang “zamrud dari negeri khatulistiwa” dari memori sejarah pemikiran Islam di Indonesia ketika negara-negara lain justru mengakuinya.

“Ketokohannya sebagai pembaru Islam sangat autentik melalui pemikirannya tentang Islam dan inti Islam, yaitu tauhid yang sangat mendalam dan fundamental namun kritis, terbuka, dialogis, dan konstruktif,” tegas Ruhaini.

Bung Karno bahkan melampaui para pembaru lainnya meski tidak dilahirkan dan dididik dalam lingkungan Islam yang digambarkan sebagai Islam yang sesungguhnya. Sebab, menurut Ruhaini, ia menyebut ayahnya sebagai ‘Islam-Islaman’ atau Islam Jawa dan ibunya sebagai penganut Hindu dari Bali.

“Namun, pertautan dan pergulatannya dengan Islam terjadi sangat intens di bawah bimbingan HOS Cokroaminoto, tokoh ideologi Islam dan orator ulung di masanya yang membangkitkan kesadaran jati diri dan identitas dalam kontestasi ideologi dan politik antara pribumi dan penjajah. Islam bagi Soekarno adalah ‘takdir’ dan anugerah Allah yang harus diklaim kembali dari penjajah Barat yang merampasnya,” kata Ruhaini.

 

Dida Darul Ulum – MI