Temu Antar Diskusi Serial Gotong Royong

Diskusi serial terpumpun tentang negara gotong royong bersama Airlangga Pribadi Kusman, Ph.D dari Universitas Airlangga dan Dr. Hasto Kristiyanto dari PDI Perjuangan di ruang rapat Megawati Institute.

Bagikan:

Pada Rabu, 29 Juli 2026, Megawati Institute mengadakan temu antar (kick-off meeting) untuk diskusi serial terpumpun tentang negara gotong royong bersama Airlangga Pribadi Kusman, Ph.D dari Universitas Airlangga dan Dr. Hasto Kristiyanto dari PDI Perjuangan di ruang rapat Megawati Institute. Fokus dari perbincangan tersebut adalah menelaah ideologi Marhaenisme dalam gagasan Soekarno tentang gotong royong.

Airlangga memulai pemaparannya dari tinjauan filsafat pembebasan ala Bung Karno. Menurutnya, dalam tinjauan filosofis Bung Karno, ada logika ekonomi-politik di balik rangkaian peristiwa historis yang terjadi dalam relasi Indonesia dan dunia. Logika itu adalah hasil dari perjumpaan antara manusia dan kondisi sosial yang dihadapinya yang dalam hal ini hukum sejarah dan susunan masyarakat.

Sementara itu, Hasto mengawali paparannya berangkat dari tigal hal mendasar. Pertama, konsepsi negara gotong royong dalam pandangan Bung Karno lahir sebagai koreksi total atas perekonomian kolonial yang sangat kapitalistik. Kedua, konsepsi negara gotong royong tidak bisa dilepaskan dari narasi dan spirit pembebasan rakyat Marhaen.

“Ketiga, konsepsi negara gotong royong dibangun berdasarkan landasan Trisakti,” katanya.

Diskusi komprehensif ini juga menggali kembali relevansi pemikiran Soekarno, khususnya konsep negara gotong royong sebagai solusi atas krisis multidimensi yang dihadapi Indonesia. Para pembicara menganalisis bagaimana kapitalisme neoliberal—dalam berbagai bentuknya seperti kapitalisme platform, oligarkis, dan neokolonialisme—telah menciptakan kelas tertindas baru dan menghancurkan fondasi sosial-ekonomi bangsa.

Sebagai antitesis, negara gotong royong diusulkan sebagai kerangka ekonomi-politik yang berakar pada sosionasionalisme dan sosiodemokrasi, dengan tujuan mengembalikan kedaulatan produktif rakyat, kemandirian ekonomi, dan keadilan sosial. Diskusi ini juga mengkritik keras kegagalan implementasi kebijakan pasca-Reformasi, yang ditandai oleh “keterputusan sejarah” serta menyoroti urgensi reformasi fundamental di bidang fiskal, agraria, hukum, dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Diskusi ini merupakan langkah pembuka menuju diskusi serial terpumpun tentang negara gotong royong yang akan dilaksanakan oleh Megawati Institute bersama sejumlah pakar dalam mematangkan konsepsinya. Sehingga, cita-cita keadilan sosial yang merupakan ssial kelima dalam Pancasila dapat terwujud.

Lainnya