Kelas penutup atau kelas kelima belas Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) XI yang membahas pemikiran dan pergerakan Soepomo bersama Shiskha Prabawaningtyas, Dosen Universitas Paramadina, telah berlangsung pada Rabu, 08 Juli 2026, di ruang diskusi Megawati Institute, Jalan Diponegoro No. 56, Menteng, Jakarta Pusat. Fokus bahasannya adalah negara integralistik.
Gagasan tentang negara integralistik pernah muncul dalam sejarah pemikiran dan pergerakan bangsa Indonesia. Tokoh yang getol menyuarakannya adalah Soepomo. Ia lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, 22 Januari 1903 dan meninggal di Jakarta, 12 September 1958. Kakeknya dari pihak ibu adalah Raden Tumenggung Wirjodirodjo, Bupati Sragen, sementara kakeknya dari pihak bapak adalah Raden Tumenggung Reksowardono, Bupati Sukoharjo. Jadi, ia lahir dari keluarga pejabat yang membuat dirinya mendapat privilese dalam dunia pendidikan pada masanya.
Soepomo bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School), Boyolali pada 1917, MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs), Solo pada 1920, Bataviasche Rechtsschool, Batavia pada 1923, dan Rijksuniversiteit Leiden pada 1924. Gagasan kunci Soepomo, menurut Shiskha, adalah pada teori negara yang mana teori negaranya tidak plagiat seratus persen model negara-negara Eropa. Karena itu, dalam merumuskan dasar negara pada 1945, ia menekankan pentingnya peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.
Shiskha menekankan pentingnya melihat konteks historis dalam membaca Soepomo. Sebab, untuk memahami pemikiran tokoh seperti Soepomo dan Soekarno, penting untuk melihat konteks situasional saat itu. Pendekatan holistik dan kesadaran historis (historical awareness) diperlukan untuk memahami evolusi negara dari pandangan helikopter (helicopter view).
“Konteks global dan lokal era Soepomo. Lahir pada 1903, ia hidup di tengah transisi global pasca-Napoleon dan era politik etis di Hindia Belanda, yang melahirkan generasi intelektual baru. Sidang BPUPKI [Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia] menjadi wadah bagi mereka untuk mengimajinasikan bentuk negara merdeka,” katanya.
Shiskha juga bicara tentang relevansinya dengan konteks saat ini. Situasi ketidakpastian global saat ini, akibat pergeseran kekuatan dan disrupsi teknologi digital, memiliki kemiripan dengan tantangan yang dihadapi para pendiri bangsa, menunjukkan adanya pola perubahan peradaban yang berulang.