Salah satu tokoh penting dalam sejarah pemikiran bangsa ini adalah Sutan Syahrir. Ia lahir pada 05 Maret 1909 di Pandang Panjang dan meninggal pada 09 April 1966 di Zurich, Swiss. Pandangan mendasar dari Syahrir adalah gagasannya tentang sosdem (sosial demokrat) dan aktualisasinya ada dalam peran partai politik.
Partai politik dalam negara demokratis memiliki peran besar karena dari sana, muncul keterwakilan masyarakat dan muncul kader-kader yang siap menjadi pemimpin. Di Indonesia, hal tersebut menjadi sebuah keharusan di mana seluruh aspirasi masyarakat pada dasarnya terwakili melalui partai politik.
Sutan Syahrir, dalam Perjuangan Kita, mengatakan bahwa peran utama partai politik dalam demokrasi Indonesia adalah pengaderan/perkaderan. Baginya, tidak ada yang lebih berharga dari partai politik kecuali mendidik kader-kader muda yang dapat meneruskan perjuangan bersama. Senada dengan Syahrir, Hatta mengatakan hal sama tentang partai politik dalam Demokrasi Kita. Baginya, tugas utama partai politik dalam demokrasi adalah keinsafan politik, yaitu pentingnya kesadaran akan memunculkan pemimpin-pemimpin muda di masa depan.
Itulah awal paparan Rocky Gerung dalam membincang pemikiran dan pergerakan Sutan Syahrir dalam Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) XI pada Rabu, 17 Juni 2026, di Megawati Institute. Sesi ini mengeksplorasi ketegangan ideologis antara Soekarno dan Sutan Syahrir dengan menggunakan pemetaan kuadran untuk menganalisis posisi politik yang berbeda dari pendekatan demokratis sekuler hingga teokratis monolitik.
Rocky juga mengajak para peserta membahas bagaimana lanskap politik Indonesia dapat dikategorikan menjadi empat kuadran berdasarkan sekularisme versus teokrasi dan politik monolitik versus pluralistik, dengan model partai-partai politik yang diposisikan di seluruh spektrum ideologis ini.
“Hal ini membantu kita meneliti bagaimana aktor politik di Indonesia sering beroperasi dengan cara transaksional daripada autentik, kurang memiliki fondasi ideologis yang mendalam,” tegasnya sambil mengeksplorasi cara-cara untuk mengembangkan kedalaman intelektual dan ketajaman di antara para pemimpin politik.
Percakapan ini juga membahas tren politik global dan bagaimana Indonesia dapat memosisikan diri dalam gerakan ideologis internasional yang lebih luas dan menekankan perlunya pemikiran politik autentik daripada retorika dangkal.