Salah satu pembahasan penting dalam membaca sejarah bangsa Indonesia adalah mengaji pemikiran dan pergerakan Mohammad Hatta. Ia merupakan arsitek perekonomian Indonesia pada awal-awal masa kemerdekaan. Mohammad Hatta yang juga dikenal dengan sapaan Bung Hatta adalah seorang negarawan, konseptor, dan ekonom yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia sejak 1945 hingga pengunduran dirinya pada 1956.
Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Sumatera Barat dan meninggal pada 14 Maret 1980 di Jakarta. Salah satu pemikiran penting dari Hatta adalah fokusnya pada organisasi ekonomi dan koperasi di Indonesia, dengan penekanan khusus pada tantangan membangun sistem ekonomi yang terorganisir. Selain pemikiran ekonomi, Hatta juga punya perhatian pada isu demokrasi. Karena itu, kalau kita petakan pemikiran Hatta, akan muncul tiga isu utama: koperasi sebagai prinsip kekeluargaan dalam praktik ekonomi, kedaulatan rakyat dalam politik, dan federalisme.
Tiga isu utama tersebut yang menjadi fokus pembahasan sejarawan Andi Achdian tentang pemikiran dan pergerakan Hatta pada kelas kesebelas Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) angkatan xi Megawati Institute pada Rabu, 10 Juni 2026, di Jalan Diponegoro No. 56, Menteng, Jakarta Pusat.
Menurut Andi, pemetaan tiga isu utama di atas merupakan buah pemikiran Hatta dalam karya-karyanya, antara lain, Demokrasi Kita. Di dalamnya, Hatta berbicara tentang kedaulatan rakyat, demokrasi ekonomi, dan sebagainya walaupun fokus pemikirannya pada pembangunan ekonomi dan gerakan koperasi di Indonesia dengan referensi khusus tentang kemandirian ekonomi dan swasembada.
“Mohammad Hatta adalah salah satu dari orang-orang dengan latar Minangkabau yang kental dengan tradisi demokrasinya. Ia juga sosok yang lekat dengan tradisi demokrasi Barat selama mereka belajar di negeri Belanda,” kata Andi.
Karena itu, Hatta menekankan bagaimana gerakan koperasi seharusnya dapat membantu mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi di tingkat daerah, dengan pemerintah memberikan dukungan infrastruktur sambil memungkinkan masyarakat lokal untuk mengelola pembangunan mereka sendiri. Di samping itu, kita juga perlu menganalisis tantangan dengan menerapkan sistem koperasi dan kebutuhan akan kesadaran politik dan sosial untuk membuat gerakan tersebut sukses.
Kelas kesebelas SPPB angkatan xi tentang Hatta bersama Andi juga membincang dinamika politik yang terjadi pada masanya sambil melihat dan membandingkannya dalam konteks sekarang.