Klub Merawat Indonesia (KMI) Megawati Institute kembali hadir via Zoom dengan tema “Narasi Kebangsaan Sejak Usia Dini” bersama Hasan Aoni, pendiri Omah Dongeng Marwah, Kudus-Jawa Tengah, ditemani Marbawi A Katon selaku tuan rumah pada Selasa, 01 Desember 2020.

Sebagai pembuka, Hasan bercerita tentang latar belakang berdirinya Omah Dongeng Marwah yang ia ampu sampai saat ini. Menurut pengakuannya, hal tersebut terwujud karena berangkat dari keprihatinannya melihat betapa tradisi mendongeng telah menjadi hal yang jarang ditemui pada anak-anak sekarang pada umumnya. Berbeda dari saat ini, tradisi mendongeng begitu dekat pada anak-anak dahulu.

Dalam proses belajar mengajar di sekolah, misalnya, kita sulit menemukan tradisi mendongeng yang bertahan saat ini. Sementara itu, beberapa dekade lalu, tradisi mendongeng cukup sering kita temui. Sebab, di samping membantu daya imajinasi anak-anak, dongeng pun memiliki pesan moral. Tentunya ini terjadi karena berbagai tantangan yang ada, antara lain, perkembangan dunia digital.

“Nah, keprihatinan itulah yang kemudian mendorong kami untuk mengajak anak-anak memulai kembali dengan dongeng. Tetapi, yang kemudian kita kembangkan ... dongeng tidak sekadar sebagai metode atau media untuk mengenal satu cerita dengan pesan-pesan moral tetapi sekaligus kami jadikan dalam lembaga pendidikan yang kami sebut dengan PKBM Omah Dongeng Marwah berijazah,” kata Hasan.

Melalui media dongeng, Hasan dan para penggiat lain mengajar. Bagi anak-anak yang tidak suka pelajaran tertentu di sekolahnya, dongeng bisa menjadi metode yang cukup ampuh membantu. Misalnya, ada anak yang tidak suka pelajaran matematika, bisa dibantu dengan dongeng yang mana di dalamnya ada pesan-pesan atau hitungan-hitungan terselubung sehingga ia bisa belajar menghitung. Begitu juga anak-anak yang lain.

Hampir semua pelajaran bisa dikisahkan melalui dongeng. Pertanyaannya, seberapa jauh dongeng ini bisa menginspirasi anak-anak untuk berkarya? Nah, yang menarik, menurut Hasan, bahwa narasi tentang kebangsaan di dalam keluarga maupun di sekolah ini hampir direbut oleh pelajaran-pelajaran yang diasumsikan bahwa kelak anak ini akan menerima tantangan yang besar di dalam lapangan kerja maupun di dalam menghadapi dunia.

“Sehingga, kita tahu bahwa pelajaran-pelajaran itu, yang pertama, telah menyingkirkan pendekatan-pendekatan dongeng tetapi memajukan pendekatan-pendekatan teori. Yang kedua, sebagian besar rekrutmen guru, setahu kami, itu juga lebih ke apakah dia punya kemampuan intelektual dengan syarat-syarat IP dan sebagainya tetapi kualifikasi untuk mengajar, terutama mendidik, sering kali diabaikan,” tegasnya.

Selain berbicara tentang aktivitas mendongengnya, Hasan juga menyinggung tantangan saat ini di mana anak-anak terbiasa bermain gawai. Namun, baginya, itu bukanlah halangan karena kreativitas anak bisa tetap berkembang selama kita bisa mendampinginya.