Pada Jumat, 14 Agustus 2020, diskusi serial pemikiran pendiri bangsa Megawati Institute hadir bersama Erwin Supriatna, Guru Sejarah MAN Insan Cendekia Serpong, mendiskusikan konsep pendidikan Tan Malaka.

Tan Malaka lahir pada 14 Oktober 1897 di Padang Gadang, Suliki, Minangkabau, Sumatera Barat. Ia adalah anak dari Rasad Caniago dan Rangkayo Sinah Simabur. Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, ia merupakan seorang tokoh yang terlupakan. Padahal, pemikiran-pemikirannya punya pengaruh dalam pembentukan republik ini.

Meski terlupakan, dalam beberapa dekade, penelitian tentang sosok maupun sejarah hidup telah banyak dilakukan, terutama dalam soal kiprah politiknya. Namun, hal yang luput dari perhatian kita bersama adalah visi pendidikannya. Isu ini menggerakkan Erwin untuk membedah lebih jauh bagaimana Tan Malaka memandang pendidikan. Lagi pula, Tan memang menempuh pendidikan keguruan semasa hidupnya.

Dalam pemikiran Tan, menurut Erwin, pendidikan merupakan hal yang penting untuk mencapai kemajuan bangsa pada masa depan melalui proses pendirian sekolah-sekolah.

“Pendidikan adalah dasar untuk melepaskan bangsa dari keterbelakangan dan kebodohan serta belenggu Imperialisme-Kolonialisme, pendidikan merupakan bagian dari proses transformatif sosial yang berwujud politik pembebasan,” katanya.

Erwin juga menekankan bahwa salah satu wujud konkret dari ide pendidikan Tan Malaka adalah berdirinya Sekolah Sarekat Islam pada 21 Juni 1921 di Semarang, dibantu Semaoen dan Budisutjitro. Sekolah tersebut hadir sebagai wujud tandingan dari sekolah-sekolah yang didirikan Belanda pada masa itu dengan memprioritas orang miskin dan memupuk jiwa merdeka.

“Sekolah tersebut memberi senjata cukup buat pencari penghidupan dalam dunia kemodalan (calistung, keterampilan, bahasa, dan kesenian) serta memberi hak para murid, yakni kesukaan hidup dengan jalan pergaulan (vereniging) sehingga mereka tidak sekadar pintar tapi juga memiliki jiwa merdeka,” tegas Erwin.

Konsep pendidikan Tan Malaka, lanjut Erwin, memiliki ruang lingkup dalam tiga hal, yakni kemanusiaan yang mencakup cinta kepada sesama dan egaliter, kemerdekaan yang mencakup kemandirian dan kebebasan, serta cinta tanah air yang mencakup kearifan lokal dan sejarah.

Selain konsep pendidikan, Erwin menyinggung akhir hidup dan bagaimana perkembangan sekolah-sekolah sampai dilupakannya Tan Malaka dalam sejarah pemikiran bangsa Indonesia.