Pada Jumat, 24 Juli 2020. Megawati Institute kembali menggelar diskusi serial pemikiran pendiri bangsa bertajuk “Kartini, Seni, dan Perlawanan” via Zoom dengan menghadirkan Arida Erwianti, dosen Universitas Kusuma Negara sekaligus angkatan V Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB), sebagai pematerinya.

Pembacaan tentang Kartini melalui seni sebagai medium perlawanan memang jarang diungkap. Sebab, ia selama ini dikenang dalam bentuk perayaan tahunan yang mana ide-idenya belum begitu tampak ke publik. Hal ini yang memicu Arida untuk menelusuri gagasan-gagasan dari sudut pandang yang belum pernah digunakan sebelumnya.

“Kartini juga dikenal dengan semangat dan perjuangannya dengan literasi. Ia memiliki perhatian yang cukup besar terhadap seni. Dua hal ini dapat berpadu dalam bingkai cita-cita Kartini dalam menaikkan peradaban rakyat seperti dalam suratnya. Perjuangan Kartini terkait nasib rakyat pribumi pada waktu itu, di antaranya, berkutat tentang perbaikan kehidupan, peningkatan ekonomi, dan peradaban,” kata Arida.

Kartini hidup dalam masa peralihan di mana terjadi perubahan tatanan pemerintahan dari kolonialisme ke imperialisme. Keluarganya, lanjut Arida, merupakan salah satu generasi awal yang menerima pembelajaran Barat. Sehingga, Kartini tumbuh dalam generasi pertama kebijakan politik etis yang mendapatkan semacam pencerahan dari persentuhannya dengan pendidikan Barat.

“Politik etis selanjutnya memunculkan generasi-generasi yang terpelajar bahkan menjadi intelektual. Sesuatu yang tidak dibayangkan sebelumnya dan Kartini salah satu ‘produk’ yang berbeda dari cita-cita politik etis ini,” tegas Arida.

Dalam soal pemikiran, Kartini dipengaruhi banyak dipengaruhi karya-karya sastra dari Eropa, khususnya Max Havelaar karya Multatuli. Novel tersebut diklaim sebagai novel pertama yang memberikan kesadaran kepada semua orang bahwa kolonialisme memang ada. Dari Max Havelaar ini, Kartini mengambil gagasan-gagasan perlawanan.

“Kartini seorang penulis yang baik, dan juga pembaca yang baik. Dua hal ini yang menyatu dalam semangat dan laku literasi Kartini. Selain menulis surat kepada sahabat-sahabat penanya, dia juga menghasilkan tulisan dan dipublikasikan. Meskipun menggunakan nama ayahnya, di usia yang masih sangat belia, Kartini menulis tentang prosesi perkawinan warga keturunan Arab yang berjudul ‘Het Huwelijk bij de Kodja’s’,” kata Arida mengutip Poeze.

Ia juga menekankan bahwa, bagi Kartini, seni adalah medium bertendensi. Seni tidak sekadar berbicara ekspresi keindahan, tapi juga menunjukkan identitas, penggerak ekonomi dan juga kritik.