Diskusi serial pemikiran pendiri bangsa yang menghadirkan alumni Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) sebagai para narasumbernya kembali berjalan via Zoom pada Kamis, 25 Juni 2020. Bertindak sebagai pemateri, Tjoki Aprianda Siregar, angkatan VIII SPPB, yang menyampaikan bahasan tentang Hatta dan pemikiran politik luar negerinya.

Hatta merupakan salah satu pendiri bangsa yang sangat produktif menulis di samping Tan Malaka, dan Bung Karno. Karya-karyanya sampai saat ini secara umum bisa diakses oleh siapa pun. Menurut Tjoki, Mohammad Hatta—yang dikenal dengan panggilan Bung Hatta—merupakan tokoh nasional yang sejak muda menyadari pentingnya pengakuan dunia internasional terhadap Indonesia.

“Pengakuan yang terpenting, bagi Hatta muda yang saat itu tengah studi di Belanda pada tahun 1920-an, belum terhadap Indonesia merdeka, namun pengakuan yang meluas bangsa asing kepada nama ‘Indonesia’ dan bukan ‘Hindia Belanda’ bagi warga kepulauan Nusantara,” katanya.

Tjoki menekankan pentingnya gagasan Hatta tentang politik luar negeri agar kita tidak terjebak pada pandangan bahwa perannya sebatas dalam koperasi. Kiprahnya dalam Perhimpunan Indonesia, misalnya, yang merupakan persatuan mahasiswa dan pelajar Indonesia di Belanda saat itu dimanfaatkannya untuk memperkenalkan nama Indonesia.

“Hatta juga menjalankan propaganda aktif selama studi di Belanda, baik di negeri itu maupun di luar Belanda, untuk mempromosikan cita-cita ‘Indonesia Merdeka’,” lanjut Tjoki.

Menurut Hatta, sebagaimana yang disampaikan Tjoki, politik luar negeri suatu negara tergantung pada motif persahabatan atau permusuhan dari negara-negara terhadap Indonesia, yang sifatnya tidak statis, melainkan dapat berubah sesuai perkembangan dari masa ke masa. Dalam kaitan ini, politik luar negeri yang dijalankan suatu negara tidak selalu sama dari dahulu hingga kini.

“Sementara itu, dalam situasi di mana Belanda ingin kembali menguasai Indonesia setelah Sekutu memenangkan Perang Dunia II di Pasifik atas Jepang, tujuan Indonesia secara garis besar ada dua. Pertama, memperkuat kedudukan Indonesia secara militer terhadap upaya Belanda menduduki Indonesia. Kedua, memperoleh sebanyak-banyaknya pengakuan negara lain kepada Indonesia sebagai negeri merdeka,” lanjutnya.

Dalam tataran praktis, Tjoki menyampaikan bahwa gagasan politik luar negeri Hatta adalah politik bebas aktif. Sikap bebasnya Indonesia dalam melaksanakan hubungan luar negerinya bukan karena Indonesia ragu-ragu dalam memilih, namun justru bebas untuk bertindak aktif untuk berusaha sekuatnya meredakan pertentangan antarblok dan mewujudkan perdamaian sesuai dengan cita-cita PBB. 

Sementara aktif, mengutip Dewi Fortuna Anwar, berarti Indonesia tidak akan tinggal diam atau pasif dan hanya mengambil sikap netral mengamati perkembangan di dunia internasional, namun justru akan aktif dalam hubungan antarnegara atau kerja sama internasional untuk mewujudkan ketertiban, perdamaian dan stabilitas dunia.