Diskusi serial pemikiran pendiri bangsa Megawati Institute kembali hadir dengan tema “Soekarno, Kapitalisme, dan Negara” pada Kamis, 14 Mei 2020. Diskusi daring ini menghadirkan Insan Praditya Anugrah, dosen Ilmu Politik Universitas Terbuka, sebagai narasumbernya.

Insan mengawali pembicaraannya dengan memaparkan asal-usul istilah kapitalisme itu sendiri. Menurutnya, istilah “kapitalis” pertama kali diperkenalkan oleh Arthur Young dalam catatan perjalanannya ke Paris, dalam jurnal Travels in France, pada 1792. Istilah “kapitalis” merujuk kepada orang-orang yang memiliki (banyak) uang.

“Sedangkan, kapitalisme sebagai sistem baru diutarakan oleh Thomas Hodgskin pada 1825 dalam publikasinya berjudul, Labour Defended Against The Claim of Capital, yang menyatakan seluruh kapitalis di Eropa, dengan modal mereka yang bersirkulasi,” kata Insan.

Selain penjelasan tentang asal-usul istilah kapitalisme, Insan juga memaparkan bagaimana konteks sejarah pergerakan Indonesia sebelum kemerdekaan. “Yang jelas,” lanjutnya, “ruh kapitalisme berasal dari merkantilisme, yakni berdagang untuk profit. Artinya, ada nilai lebih yang harus didapat pedagang dari pertukaran barang maupun jasa melebihi nilai produktivitas ataupun nilai intrinsiknya.”

Pada masa perjuangan sebelum kemerdekaan, tidak ada ideologi lain yang ampuh untuk melawan kolonialisme kecuali Marxisme. Karena itu, ideologi Marxisme akan kita temukan dalam setiap pemikiran pendiri bangsa termasuk Soekarno.

“Pada akhir era kepemimpinannya pada 28 Februari 1966 dalam acara Gerakan Siswa Nasional, kemudian pada September 1966 saat menerima delegasi angkatan 45, Soekarno secara terang-terangan menegaskan, ‘Ya, aku Marxis!’,” terang Insan.

Menurutnya, Soekarno menyaksikan gemerlap kehidupan bangsa Eropa di tengah industrialisasi. Politik etis hanya berdampak di kalangan terdidik namun para buruh dan kebanyakan kaum pribumi masih menderita diskriminasi dan subordinasi ras dan kelas. Depresi ekonomi 1930-1939 menyebabkan kemelaratan dan pemotongan gaji pegawai dan upah buruh besar-besaran.

“Tulisan Soekarno di Fikiran Ra’jat pada 1932 mengenai ‘Kapitalisme Bangsa Sendiri’ dan pidato ‘Indonesia Menggugat’ pada 1930-an secara jelas mengatakan bahwa kapitalisme adalah sebuah sistem sentralisasi dan akumulasi kapital yang eksploitatif memisahkan kaum buruh dengan alat produksi yang menyebabkan balapan tarif dan eksploitasi yang berujung kepada imperialisme, pengangguran, peperangan dan kesengsaraan,” lanjutnya.

Selama diskusi, Insan juga menjelaskan bagaimana Soekarno hendak membangun kapitalisme bangsa sendiri yang tidak berjalan sesuai yang direncanakan semasa itu. Ada banyak tanggapan dan kritik. Sehingga, memahami konteks politik-ekonomi pada masa-masa itu menjadi amat penting.