Sesi keempat dari diskusi serial pemikiran pendiri bangsa yang bertajuk “Pemberdayaan Perempuan dan Pemikiran Maria Ulfah” telah berlangsung pada Kamis, 07 Mei 2020. Diskusi ini kembali secara daring dengan menghadirkan Lelly Andriasanti, dosen International University Liaison Indonesia, sebagai pematerinya.

Maria merupakan salah satu tokoh pergerakan yang melakukan banyak terobosan dalam isu-isu perempuan di Indonesia. Ia lahir di Serang pada 18 Agustus 1911 dan berasal dari keluarga mapan yang mana bapaknya seorang bupati ketika itu. Bapaknya tak segan untuk membiayainya sekolah kedokteran. Namun, ia menolak dan memilih studi hukum karena terpanggil untuk membela hak kaum perempuan di negeri ini.

Menurut Lelly, masih ada bias gender dalam penulisan sejarah di Indonesia di mana kaum perempuan belum sepenuhnya mendapatkan tempat. Karena itu, dengan mengutip Kuntowijoyo, ia menekankan pentingnya penulisan sejarah yang dilakukan yang dilakukan para sejarawan maupun para perempuan itu sendiri.

“Sebenarnya tema khusus perempuan ini entah itu sejarah pemikiran maupun pergerakan perlu dikedepankan karena sulit untuk membangun sebuah perspektif baru dari yang sudah menjadi arus utama. Hal ini terkait dengan penulisan sejarah yang selama ini terpusat pada dominasi laki-laki,” katanya.

Pada Maret 1946, Maria menjadi Menteri Sosial Kabinet Sjahrir II. Menurut Lelly, perjuangan Maria ini tak lepas dari pengaruh pamannya sendiri, Hoesein Djajadiningrat. Darinya, ia mengambil pelajaran untuk membela hak kaum perempuan. Di antaranya, hak untuk tidak dipoligami.

Ketika terjadi revolusi sosial di Sumatra Timur yang mana para penyintasnya kebanyakan terdiri dari para janda, misalnya, Maria sebagai Menteri Sosial tak segan untuk melakukan bantuan seperti kebutuhan pokok dan selimut. Tapi, ia justru mendapat kritik.

“Yang membuat saya melihat Maria sebagai sosok negarawan, ketika dia berdiri di tengah-tengah. Dia tidak mau terlibat dalam konflik politik di daerah. Tapi, ia justru menegaskan bahwa Indonesia adalah negara Pancasila dan keadilan adalah salah satu tonggak dari Indonesia. Karena itu, tidak ada perlakukan diskriminatif,” lanjut Lelly.

Lelly juga memaparkan tiga upaya Maria dalam memberdayakan perempuan di Indonesia dalam konteks ekonomi, pendidikan, dan hukum. Hal ini terlihat dari tulisannya tentang keutamaan istri (1940) maupun keterlibatannya dalam kongres perempuan.