Pada Kamis, 23 April 2020, Megawati Institute mengadakan sesi kedua (dalam jaringan) dari diskusi serial pemikiran pendiri bangsa dengan pembahasan di seputar jejak radikalisme Marco Kartodikromo, terutama dalam soal jurnalisme dan sastranya. Hadir sebagai pembicara, Kasmiati, angkatan V SPPB yang kini bermukim di Sulawesi Barat.

Marco merupakan salah satu tokoh pergerakan yang jejak-jejaknya sulit ditemukan. Hal ini karena penulisan sejarah Orde Baru yang sejak awal cenderung menafikan jejak-jejak radikal perjuangan tokoh bangsa. Sehingga, seluruh informasi terkait jejak hidup Marco sulit ditemukan atau mungkin terbatas sekali.

Marco lahir pada tahun 1890 di Cepu, Blora. Berasal dari keluarga priyayi rendahan dan konon hanya menyelesaikan sekolah hingga angka loro. “Masa kecilnya tak banyak diketahui sampai kemudian ia menjadi redaktur tamu majalah Medan Prijaji yang dipimpin oleh Tirto Adhi Soerjo. Sebab itu membincang Marco memang sering kali ditautkan dengan Tirto sebagai salah satu tokoh yang juga berasal dari Blora,” kata Kasmiati.

Menurutnya, Tirto memang yang pertama-tama menggunakan pers sebagai medium untuk membangkitkan kesadaran nasional. Bahkan, pemerintah kolonial harus memberi tugas khusus kepada seseorang yakni D.A. Rinkes untuk mematai-matai dan mematahkan jalan juangnya. Sampai kemudian berhasil dibuang ke Ambon.

“Setelah Tirto dibuang, pemerintah kolonial bersorak karena menganggap pers pribumi tidak lagi bertaji. Tentu ada benarnya tapi Dr. Rinkes lupa pada Marco Kartodikromo, murid Tirto Adhi Soeryo yang penanya tak kalah tajam mengutuk kolonialisme,” lanjut Kasmiati.

Dalam konteks kesastraan, Marco dikenal sebagai penulis yang suka nyeleneh. Sebelum mengembuskan napas terakhir, selama di pembuangan, ia terus menulis. Salah satunya “Pergaulan Orang-Orang Boven Digul” yang dimuat bersambung di Pewarta Deli. Sepanjang hayatnya, tulisan-tulisan Marco tersiar di berbagai media seperti Medan Prijaji, Doenia Bergerak, Sinar Djawa, Sinar Hindia, Medan Moeslimin, Hidoep, Sarotomo, dan sebagainya.

“Namun, jika ditarik satu benang merah, tulisannya menyala-nyala, penuh protes sekaligus sangat bersimpati dan tentu memperjuangkan keadilan sebagaimana keyakinannya bahwa kita semua manusia semestinya hidup sama rata, sama rasa,” jelas Kasmiati.