Pada Kamis, 17 Oktober 2019, Megawati Institute menggelar kelas penutup rangkaian program Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) angkatan VIII dengan mengundang Yudi Latif sebagai pemateri. Yudi menyampaikan pentingnya mengurai genealogi pemikiran pendiri bangsa yang telah dipelajari dalam kelas-kelas sebelumnya.

Menurut Yudi, berbagai ideologi yang muncul sampai saat ini pasti berasal dari kalangan terpelajar yang kebanyakan berasal dari masyarakat urban (urban educated people). Karena itu, dalam sejarah pergerakan Indonesia, para tokoh pergerakan muncul dari kalangan urban terdidik/terpelajar seperti Cokroaminoto, Muhammad Hatta, dan sebagainya.

“Terdapat beberapa aspek yang dapat memengaruhi sebuah pemikiran seseorang, yaitu tingkat pendidikan, media, diskusi praktis, struktur kesempatan politik, basis ekonomi, dan lingkungan domestik maupun internasional,” lanjut Yudi.

Yudi juga menekankan pentingnya membaca sejarah secara genealogis, yaitu sebuah cara membaca sejarah secara strategis, bagaimana melihat masa lalu dari terang kepentingan dan kenyataan hari ini. Dalam pemaparannya, ada perbedaan antara inteligensia dengan intelektual. Inteligensia merupakan sebuah kelompok yang memiliki agenda-agenda pergerakan. Sementara itu, intelektual adalah individu yang menjadi “juru bicara”-nya.

Selanjutnya, ia menjelaskan bagaimana politik etis muncul sehingga menimbulkan dampak signifikan dalam sejarah pergerakan di Indonesia. Banyak tokoh pergerakan hadir karena mengenyam pendidikan hasil kebijakan politik etis tersebut.