Program Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) sudah mulai berjalan kemarin, 13 Agustus 2019, di Megawati Institute. Hadir sebagai pemateri Eka Wenats Wuryanta, dosen Universitas Paramadina yang punya perhatian pada sejarah pergerakan dan pemikiran para pendiri bangsa.

Sejak awal paparannya, Eka menyoroti bahwa dalam lanskap pergerakan kebangsaan Nusantara pada akhir abad XIX dan paruh awal abad XX, kita bisa pahami pengaruh sosialisme yang mengambil rupa dan wajah tertentu dari kondisi asli bangsa dan gerakan-gerakan nasionalis.

Menurutnya, tradisi budaya di atas tentunya berhubungan sangat erat dengan beberapa topik utama kemasyarakatan pada waktu itu. Misalnya kepemilikan tanah komunal, prinsip gotong royong, peran dan fungsi Islam terutama pada ajaran kelompok modernisme Islam, serta yang paling utama adalah struktur kelas sosial masyarakat Nusantara, terutama pada era kolonialisme Belanda.

“Dalam konteks lebih luas, munculnya kesadaran kebangsaan di kawasan Asia dan Afrika pada masa lalu tidak terlepas dari pengaruh paham dalam era tersebut, yakni liberalisme, sosialisme, demokrasi, nasionalisme, dan pan-Islamisme. Beberapa paham ideologis tersebut mendorong rakyat Asia-Afrika untuk membangun diri dalam kesadaran berbangsa dan bernegara dengan mengutamakan kebebasan dan kemerdekaan,” katanya.

Dalam sejarah pergerakan nasional, pengaruh dari berbagai paham di atas memang tak bisa kita nafikan. Sebab, tidak pernah ada situasi di mana ragam pemikiran muncul dari ruang kosong. Sosialisme, misalnya, tidak mungkin hadir begitu saja dalam pemikiran para pendiri bangsa tanpa adanya interaksi dengan bacaan luar. Meski demikian, sosialisme yang berkembang di sini tidak begitu sama dengan yang lain. Tentu ada perbedaan.

Karena itu, menurut Eka, gerakan sosialisme dalam seluruh sejarah pergerakannya biasanya akan condong untuk bersifat “sinkretis” atau eklektis dengan kondisi faktual sosial masyarakat yang ada. Demikian juga sosialisme di Nusantara sebelum Indonesia terbentuk secara formal yuridis.

“Dari sekian tokoh pergerakan Nusantara waktu itu, hanya beberapa saja yang mengadopsi secara langsung logika dan implementasi pemikiran Marx. Tidak banyak yang berhasil membaca langsung tulisan Marx. Kebanyakan dari mereka justru membaca Marx secara tidak langsung, termasuk dari komentar Lenin, Mao atau bahkan Harold Laski,” lanjutnya.

Selain menyampaikan latar belakang kemunculannya di Indonesia, Eka juga menyinggung sosialisme dan kebangkitan nasionalisme di Nusantara yang berkelindan dan saling kompatibel lantaran kemampuan eksplanasi teori sosialisme dan nasionalisme menggambarkan secara aktual kondisi kolonialisme di Nusantara pada masa itu.

“Sosialisme dan nasionalisme menjelaskan dengan aktual karakter kolonialisme yang berkembang di Asia pada waktu itu. Sosialisme menerjemahkan kolonialisme sebagai bentuk perbudakan dan eksploitasi paling vulgar. Nasionalisme dalam konteks penjelasan para sosialis sebagai dominasi bahasa yang memuaskan kerinduan emosi dan rasional,” jelasnya.

Dalam konteks itu, kolonialisme adalah bentuk varian kapitalisme global. Dengan demikian, gagasan sosialisme, dalam hal ini Marxisme, menyodorkan ide bahwa perjuangan berkelanjutan, bahkan dalam sisi lain, kepastian dominasi asing akan segera diakhiri.

Sosialisme yang berkembang sejak zaman pergerakan diwakili HOS Cokroaminoto dan Cipto Mangunkusumo. Selain dua tokoh tersebut, tentu saja ada tokoh-tokoh pergerakan lain yang memiliki ide perjuangan yang sama. Namun, yang tidak kurang penting dipahami adalah konsep sosialisme Indonesia yang menjauhkan dirinya dari ketergantungan konsep sosialisme yang lahir dari negeri asalnya di Eropa dengan permasalahannya sendiri.

Sekarang, sebagaimana yang Eka tekankan, saatnya mempelajari kembali konsep dan gagasan sosialisme untuk membaca persoalan-persoalan yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme global sekarang.