Pada Selasa, 14 Mei 2019, Megawati Institute mengadakan diskusi dan buka puasa bersama alumni Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) dari angkatan pertama sampai angkatan ketujuh. Acara tersebut merupakan ajang silaturahmi dengan agenda evaluasi program SPPB yang telah berlangsung dari tahun 2011 sampai sekarang.

Dida Darul Ulum, selaku pengelola program tersebut menyatakan bahwa acara ini merupakan agenda penting di mana masukan-masukan alumni menjadi salah satu rujukan dalam perbaikan kurikulum SPPB secara umum. Karena itu, setiap masukan pasti akan tercatat dan menjadi pertimbangan.

“Megawati Institute (MI) sebagai sebuah lembaga tangki pemikiran (think tank) yang fokus pada ideologi kerja (working ideology) Pancasila 1 Juni 1945, berkehendak untuk mentransformasikan gagasan-gagasan para tokoh bangsa yang telah membangun fondasi kemerdekaan seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, dan lain-lain,” jelasnya.

Setelah sambutan/presentasi program yang telah disampaikan Dida, setiap lulusan mendapatkan kesempatan untuk berbicara dan berpendapat. Reza Suriaputra, salah satu lulusan, menekankan pentingnya pemilihan narasumber atau pembicara. Sebab, tema/subtema dalam SPPB merupakan bahasan luas dan mendalam.

Selain Reza, ada Erwin Supriatna. Erwin memberi masukan tentang pentingnya program SPPB menyasar siswa-siswa di berbagai sekolah. Hal ini penting karena melalui program tersebut, kampanye ide atau penyebaran gagasan tentang berbagai pemikiran pendiri bangsa semakin tersebar. Misalnya menjajaki kerja sama dengan organisasi-organisasi siswa intra sekolah (OSIS). “Di sini, pentingnya kemasan berdasarkan cita rasa mereka,” katanya.

Dalam acara tersebut, juga timbul kesadaran tentang pentingnya meneliti tokoh-tokoh perempuan untuk dikaji ulang sebagaimana yang disampaikan Lelly Andriasanti. Menurut Lelly, perlu ada ketelitian dalam membaca sejarah pergerakan pendiri bangsa khususnya kaum perempuan. Kartini misalnya terlalu diidentikkan dengan feminisme padahal perjuangannya lebih dari itu.

Hal senada disampaikan Wardah Nisa menjelang berbuka. Tapi, Wardah lebih menekankan pentingnya kelas pembekalan setelah seluruh rangkai kelas SPPB selesai. Sehingga, setiap peserta diberikan bekal keterampilan untuk menyebarkan gagasan-gagasan para pendiri bangsa. Keterampilan menulis misalnya.