REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Akademisi Filsafat Universitas Indonesia, Donny Gahral Adian mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menggunakan akal sehat dalam memilih pemimpin di Pilpres 2019. Menurutnya, jangan sampai masyarakat memilih pemimpin yang menghalalkan segala cara untuk menang.

"Jangan sampai memilih pemimpin yang menghalalkan segala cara untuk menang. Hoaks dihalalkan, fitnah dihalalkan, kampanye hitam dihalalkan, kata Donny dalam diskusi bertema "Bernegara dengan Akal Sehat antara Fakta dan Propaganda", di Megawati Institute, Jakarta, Selasa (5/3).

Donny mencontohkan sosok pemimpin asal Jerman Adolf Hitler yang hanya mementingkan kekuasaan, bahkan menciptakan badan propaganda untuk membuat isu. "Kalau seorang mendapatkan kekuasaan dengan hoaks, fitnah, dan menggunakan sentimen agama, pasti bukan cara-cara dengan akal sehat," ujarnya.

Menurutnya, bila melihat pasangan capres dan cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin jelas berbeda dalam kampanyenya. "Pak Jokowi, cara beliau adalah cara bekerja. Berkampanye dengan bekerja, bukan berkampanye dengan berkisah. Dia tahu betul amanah konstitusi yang diembannya. Menyejahterakan bangsa dengan KIP, jadi tidak mungkin presiden seperti itu yang tidak berakal sehat," ujar Donny.

Di tempat yang sama, Ketua Pedoman Research and Communication, Fadjroel Rachman, memuji apa yang dilakukan Presiden Jokowi, salah satunya soal pembagian sertifikat. "Pak Jokowi masuk, ada perubahan struktural terjadi. Ada yang hebat, soal sertifikat. Itu perubahan struktural dalam retribusi aset," tuturnya.